back to main page

"Kitsch series; Kick. the generics" (2008)




Kick Sesil. Kick Rio. Kick Alvin


Kick Yori. Kick Aryo. Kick Abi


Kick Zanun. Kick Irma. Kick Nuri


Kick Yuki. Kick Edo. Kick Endira


Kick Luky. Kick Dana. Kick Ruddy


Kick Chacha. Kick Seno". Kick Obon


"Kick. the generics"
Graphite pencil & washed pencil on paper
12x9 cm (18 panels)
2008
(Framed / signed / portrait of colleagues: Sesilia Kelyombar, Fitorio Bowo Leksono , Alvindra Adhikresna, Yori Frisa Papilaya
,
Trie Aryadi, Abi Raditya Hendrosupeno, Zanun Nurangga, Irma Dewi Febriani, Nuri Fatimah, Rd Yuki Agriardi Koswara,
Enarldo Tadya Girardi, Endira Fitriasti Julianda, Luky Supriadi, Tubagus Ardan Hanafi, Ruddy Alexander Hatumena,
Anisa Okta Fenny, Wijoseno Rahanindito, Danny Osborn Adamy / exhibited with "After Dimas. a tribute to")
Exhibited on "Wallpaper III", introducted by
Sesilia Kelyombar. Ewo's launch, Bandung. 18 June 2008
& "Dua Kota, Dua Cerita", curated by Alia Swastika. Galeri Semarang, Semarang. 2010




------------------------------------------------------------------------------------------------


("Wallpaper III" poster exhibition)



------------------------------------------------------------------------------------------------

"DUA KOTA, DUA CERITA"
Cerita dari Dua Kota: Generasi Baru Seniman Jogja dan Bandung

Dalam ranah seni rupa Indonesia pasca kemerdekaan, peran signifikan dari dua kota yaitu Bandung dan Yogyakarta, menjadi sesuatu yang acap dipertentangkan. Ada banyak terma-terma yang mengitari pertentangan atau pengoposisian seniman dari dua kota ini, yang tentu saja tak bisa dilepaskan dari konteks sosial politik serta sejarah di masing-masing kota tersebut. Dalam sejarah seni rupa sendiri, pada beberapa periode krusial, penghadap-hadapan atas kubu Jogja dan kubu Bandung merupakan sesuatu yang menjadi penanda dinamika wacana. Di luar perdebatan mengenai ciri khas kekaryaan (yang tentu saja merepresentasikan narasi-narasi lain yang lebih besar berkait dengan gagasan estetik, penyikapan yang politis atas medium, dan sebagainya), diskusi terutama memapar pula persoalan lanskap budaya dua kota tersebut.

Perdebatan terakhir berkaitan dengan mahzab “Bandung” dan “Jogja” ini muncul awal tahun 2009 yang lalu, ketika Adi Wicaksono menulis sebuah artikel kontroversial yang mencoba membandingkan kecenderungan terbaru seniman muda dari dua kota tersebut (terutama dengan mengungkapkan ciri khas seniman muda dari masing-masing kota). Di luar kontroversi yang menyebut juga minimnya data yang dimiliki oleh Adi Wicaksono, artikel tersebut membuat banyak orang mempertanyakan kembali relevansi dari perbandingan semacam itu. Apalagi topik yang ditawarkan cenderung mengulang apa yang sudah diperdebatkan selama berpuluh tahun dalam sejarah seni rupa modern Indonesia.

Sayangnya, kebanyakan diskusi dan perdebatan itu lebih hadir secara sporadic dan sesekali, tanpa diakhiri oleh satu upaya pemetaan yang lebih punya arah. Persoalan pemetaan, bisa jadi memang selalu mengarah dan terbaca sebagai upaya pembandingan atau penghadapan-hadapan tadi, tetapi harus dilihat bahwa pada pemetaan ada usaha lebih jauh dalam hal pengumpulan data, serta pembacaan atas data-data tersebut. Berkaitan dengan upaya untuk menandai data entri dalam sejarah seni rupa di Indonesia, sebagai bagian dari narasi besar mengenai posisi Bandung dan Yogyakarta dalam kelumit sejarah tersebut, maka pemetaan-pemetaan kecil semacam yang dilakukan melalui pameran ini, diharapkan bisa menjadi bagian ke arah sana. Dengan peta yang terarah, seharusnya wacana dan perdebatan yang berlangsung di sekitarnya diharapkan bisa berdasar pada argumentasi-argumentasi berbasis data, bukan hanya permainan asumsi dan generalisasi.


*****
Di Yogyakarta, sebagaimana yang telah tercatat dalam sejarah seni rupa kontemporer Indonesia, pada 1990an, berdiri Cemeti Contemporary Art Gallery yang menjadi ruang alternatif baru bagi seniman, di mana karya-karya yang non-komersial dan menampilkan gagasan estetika yang baru ditampilkan. Dari sinilah muncul nama seniman-seniman yang dianggap memberikan warna baru bagi dunia seni rupa kontemporer misalnya dari generasi S Teddy D, Ugo Untoro, Agung Kurniawan, Eddie Prabandono, Bunga Jeruk, Kelompok Apotik Komik, dan nama-nama lain. Pada saat itu, bentuk-bentuk karya baru seperti instalasi dan objek tiga dimensi, bahkan seni performans dan video, menjadi ruang eksperimentasi bagi para seniman muda, keluar dari kelaziman karya yang beredar di pasar seni rupa pada saat itu. persentuhan dengan dunia seni rupa global telah memberikan mereka referensi baru berkaitan dengan jenis dan modus karya. Kelompok seperti Geber Modus Operandi, Performance Factory, The Garden of the Blind, merupakan kelompok seniman muda yang lahir di akhir tahun 1990an yang mencoba untuk menunjukkan lintasan antar disiplin di ranah seni rupa.

Selain melahirkan karya baru dengan gagasan yang inovatif, karya-karya seniman Yogya pada generasi ini juga lekat dengan idiom-idiom yang mengkritisi situasi politik aktual. Mereka menjadi bagian dari perlawanan terhadap musuh bersama, menciptakan metafor visual yang subversif terhadap rezim penguasa. Bahkan pada pertengahan 1990an, berdiri Lembaga Kebudayaan Taring Padi yang secara jelas menyatakan ideologi kesenian yang berpihak kepada rakyat kecil.

Generasi yang sama di Bandung misalnya bisa dirujuk pada nama-nama seperti RE Hartanto, Gustaff Hariman Iskandar, Gusbarlian Lubis, dan Irwan Bagja. Sebagaimana seniman-seniman muda Yogya, generasi muda seniman Bandung juga banyak melakukan eksperimen dengan media-media baru. Yang sedikit berbeda, pada saat itu tampaknya seniman Bandung cenderung kurang tertarik pada isu-isu berbau politis, dan lebih banyak mengeksplorasi kemungkinan estetik. Dengan cara berbeda, mereka juga menautkan diri dengan gerakan seni rupa global terutama melalui sekolah seni dan proyek-proyek residensi yang baru dimulai. Pada paruh kedua tahun 1990an, di Bandung muncul kelompok-kelompok yang mengeksplorasi media baru seperti Bandung Center for New Media Arts, Biosampler, dan sebagainya. Seniman media baru yang terkemuka di Indonesia, Khrisna Murti, juga berasal dari Bandung. Seni performans juga berkembang dengan cukup cepat, meskipun dengan kecenderungan yang berbeda dengan seniman Yogya. Alih-alih mengadopsi bentuk teatrikal yang mengintegrasikan banyak aspek pertunjukan, sebagian besar seni performans di Bandung mengandalkan konsep-konsep interaktif untuk melibatkan pengunjung. Boleh dikatakan, pada saat itu, jarang sekali ada seniman muda Bandung yang membuat karya lukis. Jika pun ada, justru kebanyakan dari mereka tidak melakukan pameran di tempat-tempat yang pada waktu itu dianggap sebagai pusat seni.

Dibandingkan dengan Yogyakarta, karya-karya seniman Bandung pada saat itu mendapatkan pengaruh yang cukup kuat dari ranah desain, terutama yang menyangkut desain aplikatif, misalnya desain grafis, fashion, termasuk musik, dan sebagainya. Isu-isu politis muncul secara sporadis dalam karya beberapa orang seniman, tetapi lebih banyak para seniman berkutat pada isu-isu personal atau melingkupi hal yang berada dalam lingkungan hidup para seniman itu sendiri. Nuansa humor dan satire menjadi sesuatu yang mudah ditemui pada karya-karya seniman di waktu itu.

Berkaitan dengan ruang pamer, di Bandung sempat muncul beberapa ruang pamer alternatif, seperti Rumah Proses, Galeri Padi, Galeri Fabriek, hingga satu yang cukup mapan hingga sekarang, Selasar Seni Soenaryo Art Space.

Seperti sudah disinggung di awal, sebagian seniman, terutama yang berprofesi sebagai pengajar, kemudian mengambil peran pula sebagai kurator dan kritikus seni seperti Rizki Zaelani, Asmudjo Jono Irianto, Rifky Effendy, dan beberapa nama lainnya. Mereka berperan secara aktif dalam program-program pelatihan kurator terutama di tingkat regional Asia.
*****

Dalam ranah seni rupa, tiga tahun belakangan juga merupakan masa tumbuhnya seniman-seniman muda yang menunjukkan idiom visual yang segar di Bandung. Dapat dikatakan, jumlah seniman Bandung yang berpameran secara aktif meningkat secara cukup signifikan dibandingkan tahun 1990an. Sempat pula timbul trend pameran yang secara jelas menyebut Bandung sebagai judul pameran untuk menegaskan “politik identitas” dalam ranah seni rupa Indonesia, misalnya “Bandung Art Now”, “Petisi Bandung”, “Bandung New Emergence”, dan beberapa judul pameran serupa. Pameran-pameran kelompok yang berlangsung di galeri-galeri di Jakarta banyak pula yang didominasi oleh seniman-seniman muda Bandung.

Berbeda dengan generasi tahun 1990an, seniman muda Bandung dari generasi terbaru ini banyak yang kembali berkarya dengan medium lukisan. Bahkan, Agung Kurniawan, menyebut adanya satu gaya khas yang berkembang di kalangan pelukis bandung, yang diberi istilah “realisme Baru”, yang diilhami dari perkembangan medium lukisan di Eropa. Satu gaya yang memakai realitas kedua yang terekam lewat foto, video, dan alat perekam lainnya sebagai kenyataan baru. Dalam pameran ini, kita melihat bahwa gaya macam itu bukanlah sesuatu yang sangat dominan sebagaimana yang dibesarkan oleh media massa. Nama-nama yang disebut sebagai bintang baru seperti J. Ariadhitya Pramuhendra, Willy Himawan, atau yang lebih senior, Dikdik Sayadikumullah, memang cenderung mengedepankan gaya semacam itu. Tommy Aditama Putra, dengan cara tertentu juga menunjukkan kecenderungan visual yang semacam itu, meski dengan pendekatan realisme yang lebih kental, terutama melalui strategi potret diri yang merujuk pada figur lain yang lebih ikonik. Sementara Guntur Timur mendekati realisme dengan cara baru, dimana Akan tetapi, di luar mereka, harus dicatat bahwa di Bandung berkembang pula gaya baru semacam komik atau kartun—meskipun tidak sebanyak seniman Jogja—seperti Radi Arwinda atau Tinton Satrio.

Kecenderungan untuk mencipta terobosan dalam karya instalasi dan objek tiga dimensi yang sudah ditengarai sejak 1990an (misalnya dengan inovasi-inovasi yang menarik dari Gusbarlian Lubis), merupakan gejala yang tampaknya lebih dominan di kalangan seniman muda Bandung. Wiyoga Muhardanto, Faisal Habibi, Tisa Granisia, Octora Veronica, dalam kesertaannya di beberapa pameran menampilkan karya-karya tiga dimensi yang cenderung mempermainkan fungsi dan bentuk visual dari benda sehari-hari (misalnya motor, tas, pisau, gunting, boneka, dan sebagainya). Inspirasi mereka memang cenderung diambil dari interaksi mereka dengan benda yang bisa ditemui dari hidup sehari-hari, lalu bermain dengan imaji visual atas bentuk dan fungsi, sehingga menghasilkan kemungkinan karya yang tak terduga. Kita pun masih bisa melacak jejak dari gagasan dasar bentuk yang mereka kembangkan. Dari karya-karya mereka, bisa dilihat adanya tingkat keterampilan tangan yang tinggi terutama untuk penyelesaian akhir, dengan bentuk yang umumnya bersih, rapi, terkontrol (dalam bahasa Adi Wicaksono: terkendali), nyaris sempurna. Tisa Granisia dan Octora, menunjukkan eksperimentasi-eksperimentasi menarik yang menjelajahi kemungkinan baru dalam membaca kode-kode yang sifatnya feminin, tanpa harus terbebani dengan isu-isu tentang gender.

Sementara, dalam ranah seni media baru, kelompok Tromarama berhasil mencuri perhatian dengan karyanya yang penuh humor dan imaji visual yang segar. Berbeda dengan kelompok-kelompok media baru dari generasi sebelumnya di Bandung yang cenderung berbasis pada musik, Tromarama mengintegrasikan elemen-elemen yang berbeda dalam visual seperti grafis, teks, gerak dari benda sehari-hari ke dalam satu citra gambar bergerak. Dengan keunikan dalam modus penciptaan dan citra visual, Tromarama berhasil menembus lanskap seni rupa internasional dengan keikutsertaannya di Singapore Biennale dan beberapa pameran lain berskala internasional. Erik Pauhrizi mengolah fotografi sebagai salah satu medium utamanya bersama dengan medium lain seperti lukis atau, dengan potret-diri sebagai kecenderungannya. Selain Erik, seniman Bandung lain yang tertarik mengolah fotografi adalah Prilla Tania atau Herra Pahalasari.

Berkaitan dengan tema, sebagaimana sumber dari gagasan bentuk yang cenderung mengadopsi dari keseharian mereka, cerita tentang apa yang berlangsung di sekitaran juga menjadi tema utama bagi mereka. Dari kesenangan mengolah benda-benda fungsional, sebagian seniman menggarap tema-tema tentang konsumtivisme, modernitas, serta perubahan-perubahan sosial yang terjadi berkait dengan kemajuan teknologi. Beberapa yang lain tertarik mengolah tema lokalitas (seperti penggunaan bahasa Sunda), identitas dan invidualitas, politik hidup sehari-hari, gender dan femininitas, globalisasi, dan wacana-wacana lain yang belakangan semakin populer dalam ranah kajian budaya.

Pada seniman-seniman Bandung, ada modus penggunaan ikon dan simbol yang terbaca dan dapat menjadi semacam petunjuk untuk menelusuri ide penciptaan mereka. Hal ini, saya kira didapatkan dari tradisi pengajaran tertentu, di mana mereka diwajibkan untuk bisa mempresentasikan ide dibalik karya yang mereka buat. Kenyataan bahwa sebagian besar dosen mereka sekarang dikenal sebagai kurator (papan atas), atau kritikus dengan lidah tajam, juga pengalaman mencecap pergaulan seni rupa internasional, membuat para mahasiswa ini didorong untuk mengembangkan konsep-konsep yang kuat dalam membuat karya. Membaca literature sosiologi, atau sedikit filsafat adalah bumbu di tengah aktivitas membuat karya seni (yang disebut sebagai aktivitas yang cool dalam tulisan Adi Wicaksono).

*****
Mencari ke mana seniman-seniman muda di Yogyakarta beredar bukanlah hal yang terlalu sulit; cari saja tempat hingar bingar musik, dan di sanalah kita bisa menemukan mereka. Ini memang fenomena yang sangat menonjol di Yogya: bagaimana seni rupa merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari musik. Bukan saja dilihat dari banyaknya karya-karya yang menggali dan mendapatkan spirit dari musik, melainkan juga karena sebagian besar dari seniman muda ini juga merupakan pelaku dari ranah musik independen. Dan belakangan, tak jarang pula, musik itu sendiri menjadi karya yang dipresentasikan oleh seniman rupa.

Dari tautan yang erat dengan musik indie ini, wajar kiranya jika dibandingkan dengan seniman Bandung karya seniman muda di Jogja menunjukkan pengaruh yang lebih besar dari budaya pop, terutama dari segi yang di luar aras utama. Komik underground, sebagaimana diketahui, merupakan salah satu ranah yang dikerjakan oleh banyak seniman visual. Gaya-gaya komik underground ini kemudian diangkat ke kanvas, beramai-ramai sehingga dianggap sebagai ciri umum dari seniman Jogja, yang, lagi-lagi mengutip Agung Kurniawan, disebut sebagai juxtaposism.

Para seniman muda bergaya “Juxtapoze” ini sebagian besar merupakan pengikut proyek-proyek yang diadakan oleh kelompok Apotik Komik dan proyek komik Daging Tumbuh. Mereka bersama-sama dalam periode awal gerakan mural di Yogyakarta, Ketika pasar mulai menerima karya dari kelompok komik yang lebih senior, karya-karya dari para seniman muda ini juga mulai masuk dalam pasar seni rupa aras utama, bahkan cenderung menempati posisi yang dominan. Nama-nama seperti Wedhar Riyadi, Uji Handoko, Gede Krisna, Terra Bajraghosa, Indieguerrilas atau Farid Stevyasta, mulai rutin mendapatkan kesempatan pameran di galeri-galeri yang cukup mapan. Karena mendapatkan referensi dari sumber yang cenderung sama, maka banyak yang menyatakan bahwa karya-karya seniman muda berbasis komik ini cenderung terlalu sama satu sama lain, kurang menunjukkan identitas personal. Meski mendapat dorongan besar untuk melukis, tetapi seniman-seniman muda ini mencoba berkarya juga dengan instalasi, objek tiga dimensi, juga sesekali animasi.

Objek-objek tiga dimensi yang dibuat pun tak jauh dari citra visual toys (yang memang juga sedang trend ketika mereka tumbuh) yang dalam konteks seni rupa global ini mewakili kecenderungan animamix, yang menggabungkan citra animasi dan desain produk. Yang berbeda adalah objek yang dikerjakan oleh Made Lampung Diputra, yang merepresentasikan generasi baru pematung Yogyakarta. Ia punya kecenderungan yang sama dengan pematung Bandung yang mengolah fantasi atas benda keseharian, tetapi pada saat yang sama menunjukkan pula kemampuan yang tinggi untuk mencipta dan mereka bentuk baru yang dibuat dari bahan-bahan yang tak lazim seperti kerikil, kaca, dan batu.

Kelompok yang lain, sebagaimana di Bandung, mencoba terus mencari pendekatan yang berbeda (belum tentu baru) atas realisme. Yang disebut sebagai realisme ini, berbeda dengan Bandung, bukanlah memindahkan realitas yang terekam ke atas kanvas, melainkan, mencari detail yang tersembunyi dari sebuah realitas untuk direka bentuk, dikomposisikan ulang, dan menjadi citra realitas yang baru. Karenanya, mereka tertarik untuk mengolah benda-benda kecil seperti kabel atau tiang listrik sebagaimana yang dilakukan Tommy Wondra, misalnya. Utin Rini, mencoba untuk mendekati kenyataan dengan pijakan pada teknik yang sudah pernah dilakukan oleh seniman pop-art pada tahun 1960an.

Jika pada pertengahan tahun 1990an di Yogya berkembang satu gaya yang dominan yang disebut sebagai “realisme Yogya”, maka pada generasi baru ini surealisme telah berkembang dengan mengambil imaji-imaji pop satir yang mengombinasikan sedikit citra gothic yang kekanakan. Ayu Arista Murti, misalnya menunjukkan satu tawaran menarik atas surealisme yang bernuansa kontemporer, melukiskan citra masa kini dengan imaji ala dongeng.

Seni grafis, meskipun acap disebut sedikit terpinggirkan ketimbang bentuk dua dimensi lainnya, tetapi menunjukkan perkembangan menarik di Yogyakarta. Pada mulanya, grafis acap dikaitkan dengan seni propaganda, tetapi kemudian ia mendapatkan pengaruh cukup kuat pula dari imaji komik. Theresia Agustina, seniman multimedia yang belajar seni grafis secara formal, juga aktif dalam Rumah Grafis Minggiran, menunjukkan bagaimana grafis bisa menjadi pijakan, yang diolah bersama kemungkinan medium yang lain.

Karena mendapatkan pengaruh besar dari musik, sebagian besar seniman memang menggali musik sebagai inspirasi tema, yang berkait dengan kehidupan sehari-hari kelompok muda di ranah subkultur. Sebagian lagi berbicara tentang politik identitas yang personal seperti identitas keperempuan/peribuan, atau persoalan tubuh. sementara, ada pula yang tertarik menyinggung isu-isu aktual seperti lingkungan, situasi politik lokal, atau berbicara tentang hobi yang mereka tekuni dalam lingkungan pergaulannya. Tidak semua seniman di Yogya hobi membaca buku. Barangkali sebagian besar tidak melakukannya, ini memang berbeda dengan tradisi membaca yang kuat dari seniman generasi sebelumnya. Referensi karya mereka gali dari buku katalog yang dipinjam dan dibaca di perpustakaan, atau tentu melalui internet yang menyediakan berbagai ragam ide untuk mereka. Pertanyaan-pertanyaan tentang keaslian, juga konsep yang kuat, tidak terlalu mengganggu mereka. Mereka menciptakan karya untuk “kesenangan diri”, dan juga dengan sedikit ambisi, meletakkan diri dalam peta. Di kampus, ketimbang berkutat dengan teori dan konsep, mereka habis-habisan mengasah disiplin dan ketrampilan, melalui tugas yang tiada henti atau batasan-batasan dalam penciptaan yang mereka hadapi dengan beragam strategi.

*****

Sebagaimana yang sudah disebutkan dalam puluhan katalog dalam tiga tahun terakhir yang membahas tentang generasi seniman muda ini, mimpi tentang adanya narasi besar dalam karya-karya mereka tampaknya sulit jadi kenyataan. Generasi ini tumbuh dalam masa di mana personalitas dan individualitas dirayakan di tengah kehidupan yang makin plural, meski dimana-mana kita bisa melihat bagaimana selera coba diseragamkan melalui bombardir sebuah trend (entah fashion, entah pemikiran, atau cara memandang dunia). Dari sebuah masyarakat yang baru saja lepas dari tirani, dan masih sebebas-bebasnya merayakan kemampuan berekspresi, generasi ini memang masih asyik-asyiknya membangun jalan mereka sendiri untuk menggapai sesuatu.

Fenomena ini memang masih banyak berupa tanda-tanda. Belum akan ada peta yang selesai, entah dari pameran ini atau upaya pemetaan hingga tiga atau lima tahun ke depan. Tetapi, kita sekarang bisa meletakkan sedikit demi sedikit, catatan atas kontribusi generasi ini dalam peta baru seni rupa kita, yang tentu, memungkinkan perpindahan di masa depan. Perpindahan dan pergeseran itu sendiri tampak sebagai sesuatu yang niscaya, sebagaimana kecenderungan global masa kini yang menuntut kita untuk terus mengubah posisi dalam ranah yang tak berpeta.

Alia Swastika


No comments:

Post a Comment