back to main page

"Kitsch series; Bung Tommy" (2008)





" Bung Tommy "


"Kitsch series; Bung Tommy"
Graphite & soft pastel on canvas
200x100 cm
2008
(Framed / signed / COA: digital-editing master copy, in progress documentation / self-portrait; parody-appropriation of the portrait of Bung Tomo, one of the Indonesian revolusioner / exhibited with "Kitsch series; selfportrait")
Exhibited on "Layer of Visuality", curated by Alia Swastika. Artsphere, Jakarta. 2009



------------------------------------------------------------------------------------------------




(left-right, above:
on progress at Galeri Soemardja, 2008. Below: with Dhian Wijanarko Haryanto)


(Opening exhibition, 2009 / above-below: with Sally Texania, one of the Indonesian contemporary artist & her friends)

------------------------------------------------------------------------------------------------










STATEMENT
Interviewed by an unnamed journalist (J), about “Bung Tommy". 2008


J : Anda narsis.

TAP : Anda menuduh saya.

J : ......

TAP : ......

J : ...... (mengambil pena dan kertas)

TAP : ......

J : Apa yang membedakan karya anda dengan banyak representatif lainnya, seperti misalnya Ahmad Dhani dengan ‘Soekarno-wannabe’ -nya, atau, begitu banyaknya orang yang merasa dirinya adalah Che Guevara?

TAP : hmm.. dengan sangat menyesal saya katakan, disini saya tidak merasa menjadi Bung Tomo, melainkan saya sebagai “Bung Tommy” yang bergaya seperti “Bung Tomo”. Peninggalan jejak identitas diri saya sendiri sebagai si senimannya seperti kacamata, rambut, postur tubuh dan pose tangan yang mengangkat lebih tinggi dari aslinya, beserta imej latar yang samar; semua itu merupakan pengejaran makna ke-seolah-olahan.

J : (sambil mencatat) ...lalu, kenapa harus Bung Tomo?

TAP : Saya tidak suka dengan AA. Gym. Dan tidak cocok untuk bergaya seperti Bang Ben (Benyamin S.). Sekali lagi saya katakan, ini bukan potret diri Bung Tomo, melainkan potret diri saya sendiri.

J : Ya, itu jelas. Kalau begitu, patutkah anda disebut sebagai Bung Tomo-wannabe? karena, komposisinya pun mirip sekali, kecuali warna.

TAP : Tidak. Lagipula, apakah itu masalah penting? Memangnya siapa Bung Tomo?

J : Bukankah beliau adalah salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia?

TAP : Itu kata anda. Ya, memang, beliau adalah pahlawan. Bahkan semua orang tahu itu. Namun jika saya tanya anda sekali lagi, ‘siapa’ Bung Tomo? Maksud saya, coba ‘pahami’ intonasi pertanyaan saya.
Kalau masih tidak tahu, Coba cari di internet, buka google, kata kunci: ‘Bung Tomo’. Kalau sudah, saya minta juga data lengkapnya.

J : Hm.. ini terdengar seperti esai. Apakah maksud anda, anda mempertanyakan ‘identitas’ pahlawan itu sendiri?

TAP : ...

J : Jadi, jika ditanya, sebenarnya ada unsur apa saja yang terdapat pada karya anda ini?

TAP : Yang pasti; parodi. Potret diri dan apropriasi. Dan, ya, seperti yang anda katakan juga, prihal krisis identitas.

J : Hmm.. menarik. Menarik.

TAP : you bet. (mengedip)

J : Anda bilang, ‘potret diri’.

TAP : ...

J : Anda narsis.

TAP : Anda menuduh saya.

J : Ada penjelasan untuk menyangkal itu? Ya, walaupun katakanlah, apropriasi memang tidak harus selalu berarti mengangkat kembali visual maupun konsep dari sebuah karya seni yang sudah ada dengan yang baru –karena dalam hal ini, fotografi jurnal dokumentasi sejarah pun merupakan hal yang lumrah untuk dikaitkan dengan konteks pameran seni ataupun budaya, ketika se......

TAP : (memotong) ..disitulah letak parodinya, saya pikir. Hahaha.. Bukankah ini spontanitas yang konyol? Meletakkan tubuh anda ke dalam figur seorang -yang dikatakan sebagai- pahlawan, sementara anda bukanlah seorang pahlawan. Di waktu yang sama, anda tidak ‘mengenal’ siapa pahlawan itu? Seperti yang saya kembalikan lagi tadi, siapa Bung Tomo?

J : ......... saya memilih untuk tidak menjawab. Dalam hal ini saya penulis. Bukan ahli sejarah.

TAP : Anda tahu siapa saya? Anda tahu ‘siapa’ Bung Tomo? Jika tidak, maka disitulah letak ‘krisis’-nya.
Ketika sebuah identitas dipertanyakan, hal itu menjadi lumrah jika kemudian kita memaknainya dengan lebih luas. Figur ‘pahlawan’, penyosokkan yang gagah. Lantang. Pembela tanah air. Bagaimana dengan seorang saya?
Bukankah saya cukup gagah dan galak-lantang untuk dipandang oleh anak-anak dan istri saya nantinya? Dengan membela nama baik keluarga, contoh kecilnya? Saya pikir, ini pun dapat menjadi wujud perwakilan untuk orang lain juga, tidak hanya bagi diri saya sendiri --bagi diri “Bung Tommy” sendiri.

J : Dengan kata lain, mentah-mentah, “Bung Tommy” sendiri merupakan plesetan dari “Bung Tomo”?

TAP : ..hahaha... saya memilih untuk tidak menjawab, tapi tidak ingin menyangkal. Saya seniman. Bukan pembicara.

J : Interesting. Saya anggap itu sebagai otoritas seniman. Saya pikir, anda sekaligus juga memberikan tantangan bagi orang lain-para penikmat seni untuk merenungkan kembali keberadaan seorang pahlawan, arti pahlawan, dengan tidak bermaksud membesar-besarkan, bagaimanapun, sebuah dokumentasi sejarah banyak ditunjukkan oleh monumentasi patung, lukisan, fotografi, rekaman kaset suara maupun video;
di sisi yang sama, hal tersebut justru semakin membuktikan bahwa pada hakekatnya manusia memiliki sifat pelupa. Disitulah dokumentasi berperan.

TAP : Sepertinya anda membantu menambahkan bobot konsep pada karya saya. (sambil ikut mencatat)

J : Jadi kira-kira, apakah kepentingan karya ini bagi anda anda pribadi dan terutama, bagi publik seni secara luas?

TAP : Saya seorang seniman, ya, katakanlah saya adalah seniman muda, yang belajar dari seniman tua bahwa “saya hidup, maka saya berkarya” (A.D Pirous). Jika dikatakan sebaliknya, maka saya mati. Itu sederhana.
Jika anda katakan bahwa saya narsis, itu juga salah satu sifat dasar manusia.
Nyatanya pun, Manusia telah mengaprosiasi sifat tersebut dari Narcissus.

J : ...

TAP : ..saya katakan apropriasi, bukankah banyak orang juga telah menjadi appropriator? dan toh, saya sama sekali tidak meng-klaim bahwa karya saya ini merupakan konsep baru; itu karena, tidak saja saya hanya mengambil ulang imej dari yang sudah ada, namun juga dasar dari apropriasi itu sendiri, sekaligus mengambil dari apa yang pernah diambil oleh orang-orang dan para seniman sebelum saya.
Maurits Cornelis Escher menandai karyanya dengan stempel tiga kotak berisi inisial namanya menjadi ‘M’, ‘C’ dan ‘E’. Begitu juga dengan para pelukis Cina di atas perkamen karyanya. Masih banyak di Indonesia pun, seperti G.M Sudarta. Kemudian juga..

J : (memotong) ..hmm... bicara apropriasi, saya jadi ingat seorang budayawan kontemporer Indonesia yang membuat wawancara ilusif atas dirinya sendiri untuk pameran tunggalnya. Saya lupa namanya, yang jelas, topi pancingnya begitu ikonik. Kalau tidak salah dia juga seorang dosen di sebuah fakulta...

TAP : (berkelit. memotong) ..anda sebagai mediator yang memerlukan sebuah wacana, bukankah karya saya bisa menjadi rumusan yang berguna, untuk dicaci, misalnya? Para ahli seni, publik seni, memerlukan fenomena sejarah. Bukankah saya dan karya saya bagaimanapun telah menjadi salah satu faktor penting dalam runutan sejarah di masa mendatang?

J : Saya paham. Yah, paling tidak, di luar sana masih banyak di rumahnya yang sekiranya membutuhkan elemen estetis untuk mengisi dinding-dinding kosongnya yang luas..

TAP : (memotong) ..tepat sekali........................ tunggu. Anda memancing saya.

J : Anda menuduh saya.

TAP : Setidaknya saya tidak naif.

J : Tidak naif. Ya. Kalau begitu, anda tidak keberatan kalau saya katakan statement anda dari tadi itu dianggap sebagai pembenaran? Alih-alih perluasan konsep dasar, bagaimanapun menurut sepeniliaian saya, yah, apa yang anda telah lakukan sekiranya merupakan substansialitas anda sebagai seorang seniman.

TAP : ..well, anda audiensnya.

J : ............

TAP : ......

J : ......

TAP : ......


* * * * * *




No comments:

Post a Comment