
"Bapak"

"Mamih"

"Yayu Erna"

"Yayu Lin"

"Yayu Sari"

"Kak Denny"

"Ayu"

"Tommy dan Saya"
Drypoint on paper
@ 60x45 cm (artist proof, 8 panels)
2007
(Charbonel / mono color / framed / signed / COA: final exam report, bronze-plate, print editions, digital-editing master copy / family portraits; blank faces, identity discourse / visual influenced by David Hockney)
Exhibited on "Digital Conventional", academic final exam exhibition with Ayu Asterllita.
Curated by Aminudin T.H. Siregar. Galeri Soemardja, FSRD ITB, Bandung. 2007

"Merancang"

"Diskusi"
Graphite on paper
@ 95x65 cm (2 panels)
2007
(Framed / signed / COA: final exam report, digital-editing master copy /
self-portraits; talking about future, identity discourse)
Exhibited on "Digital Conventional", academic final exam exhibition with Ayu Asterllita.
Curated by Aminudin T.H. Siregar. Galeri Soemardja, FSRD ITB, Bandung. 2007

"Diskusi"
Graphite on paper
@ 95x65 cm (2 panels)
2007
(Framed / signed / COA: final exam report, digital-editing master copy /
self-portraits; talking about future, identity discourse)
Exhibited on "Digital Conventional", academic final exam exhibition with Ayu Asterllita.
Curated by Aminudin T.H. Siregar. Galeri Soemardja, FSRD ITB, Bandung. 2007
------------------------------------------------------------------------------------------------
DIGITAL CONVENTIONAL
A final-exam exhibition by Tommy Aditama Putra & Ayu Astrellita. Galeri Soemardja FSRD ITB, Bandung. 2007
Pameran Tommy dan Ayu yang kita saksikan pada malam ini bertolak dari karya-karya yang dikerjakan untuk memenuhi proyek akhir sebagai mahasiswa seni grafis. Meskipun sederhana, saya kira pameran ini sanggup memberikan sejumlah gambaran tentang praktik berkesenian di studio Seni Grafis-ITB serta praktik umum dalam dunia seni rupa di Indonesia akhir-akhir ini. Gambaran yang saya maksud adalah bagaimana (calon) seniman muda tertarik pada wilayah-wilayah personal yang tidak jauh dari masalah sehari-hari.
Karya grafis Tommy misalnya, beranjak dari problematika dirinya di dalam konstelasi keluarga. Dia mendapati dirinya sebagai seseorang yang secara anomali dinyatakan memiliki pilihan hidupnya yang berbeda, yaitu: dunia seni rupa. Pilihan ini, tentu saja kalau ditilik dari perspektif keluarga, sangatlah tidak lazim. Benturan-benturan yang dialami Tommy sehubungan dengan ketidaklaziman inilah yang dituangkannya ke dalam serangkaian proyek Tugas Akhir. Kita pun bisa menemukan sejumlah persoalan lain pada karya-karya tersebut, misalnya masalah-masalah eksistensi diri yang mengandung dimensi filosofis.
Ayu, dengan segera bisa kita temukan di dalam karyanya, mengarah ke persoalan perempuan, khususnya pada soal bagaimana lelaki memandang perempuan. Ayu membangun kotak-kotak sebagai representasi dari kemasan-perempuan. Kotak-kota tersebut dilabeli dengan nukilan tubuhnya sendiri, khususnya bagian-bagian tubuh yang selama ini menjadi dianggap atau dimitoskan sebagai daya tarik seorang perempuan. Tentu saja, karya Ayu mengandung sesuatu yang paradoksal, sekaligus mengundang ambiguitas dari sudut pengamat. Akan tetapi, hemat saya, perkara tersebut justru merupakan refleksi dari ambiguitas wacana perempuan itu sendiri.
Akhirnya, saya sangat menyambut inisiatif pameran ini sebagai proses pembelajaran sebagai calon-calon seniman muda lulusan FSRD-ITB.
Bandung , 4 September 2007
Aminudin T.H. Siregar
Galeri Soemardja
A final-exam exhibition by Tommy Aditama Putra & Ayu Astrellita. Galeri Soemardja FSRD ITB, Bandung. 2007
Pameran Tommy dan Ayu yang kita saksikan pada malam ini bertolak dari karya-karya yang dikerjakan untuk memenuhi proyek akhir sebagai mahasiswa seni grafis. Meskipun sederhana, saya kira pameran ini sanggup memberikan sejumlah gambaran tentang praktik berkesenian di studio Seni Grafis-ITB serta praktik umum dalam dunia seni rupa di Indonesia akhir-akhir ini. Gambaran yang saya maksud adalah bagaimana (calon) seniman muda tertarik pada wilayah-wilayah personal yang tidak jauh dari masalah sehari-hari.Karya grafis Tommy misalnya, beranjak dari problematika dirinya di dalam konstelasi keluarga. Dia mendapati dirinya sebagai seseorang yang secara anomali dinyatakan memiliki pilihan hidupnya yang berbeda, yaitu: dunia seni rupa. Pilihan ini, tentu saja kalau ditilik dari perspektif keluarga, sangatlah tidak lazim. Benturan-benturan yang dialami Tommy sehubungan dengan ketidaklaziman inilah yang dituangkannya ke dalam serangkaian proyek Tugas Akhir. Kita pun bisa menemukan sejumlah persoalan lain pada karya-karya tersebut, misalnya masalah-masalah eksistensi diri yang mengandung dimensi filosofis.
Ayu, dengan segera bisa kita temukan di dalam karyanya, mengarah ke persoalan perempuan, khususnya pada soal bagaimana lelaki memandang perempuan. Ayu membangun kotak-kotak sebagai representasi dari kemasan-perempuan. Kotak-kota tersebut dilabeli dengan nukilan tubuhnya sendiri, khususnya bagian-bagian tubuh yang selama ini menjadi dianggap atau dimitoskan sebagai daya tarik seorang perempuan. Tentu saja, karya Ayu mengandung sesuatu yang paradoksal, sekaligus mengundang ambiguitas dari sudut pengamat. Akan tetapi, hemat saya, perkara tersebut justru merupakan refleksi dari ambiguitas wacana perempuan itu sendiri.
Akhirnya, saya sangat menyambut inisiatif pameran ini sebagai proses pembelajaran sebagai calon-calon seniman muda lulusan FSRD-ITB.
Bandung , 4 September 2007
Aminudin T.H. Siregar
Galeri Soemardja
------------------------------------------------------------------------------------------------
REPORT
- disunting & disusun ulang, berdasarkan susunan laporan asli -
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Batasan Masalah
Manfaat dan Tujuan Penulisan
Potret
Definisi Teknik
Jika dapat dikatakan perbedaanya; Escher mencitrakan bidang kotak sebagai bentuk transformasi awal, sementara Hockney justru cenderung memecahkan objek citraannya dengan bidang kotak-kotak tersebut. Bagaimanapun realisasinya, monotoni statis bidang kotak yang dicitrakan Hockney sangat mempengaruhi visualisasi pada karya-karya penulis. Sementara pada teknik dan medium yang digunakan, penulis lebih terpengaruh oleh Durer, dari segi teknik intaglio maupun drawing yang digunakannya.
Pemaknaan yang terdapat pada karya Durer, “Melencolia 1”, sebagai salah satu referensi dasar penulis; melancholy, melancholic atau mellow berarti kegelisahan, kesedihan, kemurungan jiwa.
Bahasan Umum
Konsep Gagasan
Proses Pencitraan Karya Drypoint
REPORT
- disunting & disusun ulang, berdasarkan susunan laporan asli -
POTRET OTORITAS DIRI
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Seni adalah ekspresi. Seni merupakan salah satu aspek kehidupan yang jalannya bersamaan dengan kelangsungan hidup manusia. Karena keberadaan para pelaku seni atau seniman yaitu berada diantara masyarakat yang heterogen, maka seorang seniman harus selalu siap untuk dapat terus mempresentasikan berulang-ulang sebuah gagasan karyanya pada -bahkan- satu waktu kesempatan sekalipun dan dimanapun kepada audiens seni khususnya, ataupun kepada publik luas (masyarakat umum).
Dalam pengertian yang lebih sempit, audiens adalah masyarakat yang bisa diperankan oleh siapa saja; yang mana salah satunya adalah keluarga. Bagi penulis, keluarga merupakan publik audiens yang menjadi semacam sumber pembentukan awal dan sekaligus ‘rumah kembali’ bagi hampir setiap pembentukan diri penulis pribadi, walaupun pada segi yang sama, penulis menyadari bahwa keluarga penulis sendiri merupakan sosok yang awam terhadap seni rupa. Diartikan disini, walaupun pada masa-masa dimana penulis akan menjalani fase-fase hidup yang terindah atau terburuk sekalipun, keluarga akan tetap menjadi sosok pendukung yang terbesar. Pada tematika yang diangkat, penulis berpendapat bahwa fenomena seperti ini merupakan fenomena umum yang terjadi bagi kebanyakan individu seniman yang berasal dari keluarga non-seni, terutama pada waktu setiap seniman itu masih dalam tahap inkubasi; seperti masa kuliah, misalnya. Di sisi yang sama, pembahasan yang bersifat umum itulah yang justru menjadi salah satu kekuatan konsep pada karya penulis ini.
Pada tulisan pengantar karya Tugas Akhir ini, akan dijelaskan tematika family portrait pada visualisasi karya; disini, penulis akan memerankan seorang seniman yang memiliki latar belakang dari keluarga yang awam akan seni –dan pada waktu yang bersamaan, juga sebagai individu manusia atau seniman pada hakekatnya yang harus berjuang dalam hidup dan menghadapi lingkungan masyarakat secara luas, baik terhadap masyarakat di dalam lingkup seni maupun di luar seni sekalipun.
Dalam pengertian yang lebih sempit, audiens adalah masyarakat yang bisa diperankan oleh siapa saja; yang mana salah satunya adalah keluarga. Bagi penulis, keluarga merupakan publik audiens yang menjadi semacam sumber pembentukan awal dan sekaligus ‘rumah kembali’ bagi hampir setiap pembentukan diri penulis pribadi, walaupun pada segi yang sama, penulis menyadari bahwa keluarga penulis sendiri merupakan sosok yang awam terhadap seni rupa. Diartikan disini, walaupun pada masa-masa dimana penulis akan menjalani fase-fase hidup yang terindah atau terburuk sekalipun, keluarga akan tetap menjadi sosok pendukung yang terbesar. Pada tematika yang diangkat, penulis berpendapat bahwa fenomena seperti ini merupakan fenomena umum yang terjadi bagi kebanyakan individu seniman yang berasal dari keluarga non-seni, terutama pada waktu setiap seniman itu masih dalam tahap inkubasi; seperti masa kuliah, misalnya. Di sisi yang sama, pembahasan yang bersifat umum itulah yang justru menjadi salah satu kekuatan konsep pada karya penulis ini.
Pada tulisan pengantar karya Tugas Akhir ini, akan dijelaskan tematika family portrait pada visualisasi karya; disini, penulis akan memerankan seorang seniman yang memiliki latar belakang dari keluarga yang awam akan seni –dan pada waktu yang bersamaan, juga sebagai individu manusia atau seniman pada hakekatnya yang harus berjuang dalam hidup dan menghadapi lingkungan masyarakat secara luas, baik terhadap masyarakat di dalam lingkup seni maupun di luar seni sekalipun.
Rumusan Masalah
Merujuk pada visualisasi karya yang dicitrakan; yaitu sosok keluarga penulis sendiri, dimana keluarga merupakan unsur dasar pembentukan awal bagi setiap invividu manusia –dalam hal ini diri penulis sendiri. Dengan kata lain, gagasan dan citraan penulis pada akhirnya dapat dikatakan menjadi semacam dedikasi yang sekaligus dijadikan sebagai ikonisasi keluarga penulis sendiri dari kesimpulan paradigma pribadi, baik secara tegas maupun satir.
Batasan Masalah
Meskipun pembentukan keluarga yang dimaksud pada tema ini adalah keluarga besar penulis, namun pada visualisasi karya, figur keluarga yang diangkat adalah sebatas anggota keluarga inti dan pemaknaan figur penulis sendiri. Konsep pada visualisasi karya terbentuk dari paradigma yang tersusun berdasarkan pengalaman hidup di dalam keluarga penulis; tentang bagaimana etika di dalam keluarga dicanangkan oleh ayah, ibu, kakak hingga penulis sendiri dan pada akhirnya disimpulkan oleh penulis sebagai rancangan kehidupan di masa mendatang bagi diri penulis sendiri.
Manfaat dan Tujuan Penulisan
Tulisan ini sebagai suatu proses pemahaman atas gagasan yang dihadirkan dalam pencitraan visualisasi karya, baik sebagai gagasan di dalam kewajiban bagi seorang mahasiswa seni rupa, maupun lebih luas lagi, sebagai seorang seniman seutuhnya. Seperti yang dituliskan sebelumnya, tema yang diangkat pada Tugas Akhir ini merupakan fenomena umum yang banyak juga dialami oleh -dalam hal ini khususnya- mahasiswa seni rupa, terutama di lingkungan penulis sendiri. karenanya, diharapkan tulisan ini dapat dijadikan sebagai referensi umum demi wawasan yang tanpa batas akan bidang seni itu sendiri. Lebih dari itu, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi setiap individu mahasiswa atau publik umum untuk keperluan positif lainnya.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Potret
DefinisiDefinisi OtoritasPortrait atau potret, yang berarti gambar atau lukisan, merupakan representasi visual dari sebuah individu yang dibedakan berdasar pada karakter, posisi sosial, kekayaan atau profesi subjek dalam pengertian yang lebih luas. Potret bisa juga berupa potret hewan. Namun dalam konteks berikut, pembahasan potret hanya meliputi citraan manusia saja.
Fungsi dan Periode GayaPotret memiliki fungsi yang luas. Dalam banyak tradisi masyarakat kuno hingga modern, potret sering dianggap sebagai elemen penting untuk menyatakan status kekayaan dan kekuasaan, seperti misalnya pada masa Kekaisaran Roma (44SM-476SM), dimana potret Kaisar harus selalu ada pada setiap persidangan berlangsung.
Representasi potret pertama dari individu muncul di tahun 3100 SM pada masa Peradaban Mesir Kuno. Potret yang divisualisasikan di atas batu ataupun kayu ini berkembang terutama untuk representasi pemakaman orang-orang terhormat dan Pharaoh dengan subjek yang terduduk kaku dan posenya menyimbolkan eternal authority (kewibawaan dan kekekalan yang abadi). Pada masa kerajaan baru (1550-1070 SM) dibuat potret yang lebih naturalis dengan visualisasi subjek yang dibuat mirip aslinya. Masa tersebut di Barat dianggap sebagai masa awal kemunculan potret.
Pada abad pertengahan, potret berkembang menjadi representasi bagi para kaum dermawan penyumbang dana di gereja. Di masa-masa Baroque dan Rococo, terutama pada abad 17 dan 18, potret menjadi semakin penting, karena masyarakat didominasi oleh pemimpin-pemimpin sekuler yang digambarkan beratribut, sebagai simbolisasi akan kekuasaan dan kemakmuran. Di dalam periode ini, seniman lebih sering mempelajari ekspresi wajah yang mendukung variasi emosi dan menggambarkan perasaan manusia.
Diawal abad 18 dan 19 pada masa neoklasik, seniman di Eropa tertarik pada fashion yunani kuno dan Roma. Sementara, para seniman dari kalangan petani Eropa abad 19 lebih memilih objek dari para pemimpin dan tokoh-tokoh terkemuka mereka. Pada periode waktu yang sama, Paul Gargain dan Vincent Van Gogh, di akhir abad 19 banyak melukiskan potret orang-orang terdekat mereka dan juga self-portrait (potret diri) yang kuat. Seniman yang secara sistematis menempatkan dirinya sebagai objek untuk pertama kalinya dilakukan oleh Durer dengan karyanya, “self-potrait” (1500), dimana Durer mempresentasikan dirinya sebagai Yesus Kristus. Di samping itu, Durer juga cukup banyak mencitrakan potret keluarganya sendiri.
Di awal abad ke-20, seniman lebih memperluas pemaknaan potret. Fauvis Henri Matisse mencitrakan potret-potret kuat yang non-naturalistik. Dari Spanyol, Pablo Picasso melukiskan banyak potret dalam gaya kubis, dimana subjek sudah menjadi begitu sulit untuk dikenali. Para pelukis ekspresionis banyak menghasilkan lukisan-lukisan yang bernuansa mencekam dan paling sarat akan situasi psikologis. Para seniman di Meksiko memiliki kecenderungan kombinasi visual yang dipengaruhi oleh modernisasi dan surealisme dengan konten potret tradisi amerika latin, seperti Frida Kahlo, David Alfaro Siquerios dan Juan O’gorman. Di akhir abad ke-20 hingga awal abad 21, seniman China Zhang Xiaogang cukup banyak menghasilkan pencitraan karya lukisan yang mengangkat tematika potret keluarganya sendiri.
Pertengahan abad 20 dan 21 di masa kini, kemajuan teknologi telah menjadi unsur pendukung yang kuat dalam penciptaan potret – dan sekaligus juga mematikan kemampuan proses senimannya. Sejak terciptanya mesin cetak grafis konvensional, teknologi kamera hingga komputer, visualisasi potret dapat mencapai kesempurnaan dari segi kemiripannya dengan setiap objek manusia yang diinginkan. Di sisi yang sama, tidak banyak juga seniman yang menggunakan teknologi tersebut hanya sebagai prosesi pembuatannya saja.
Dalam dunia politik, authority atau otoritas (auctoritas, dalam bahasa latin) seringkali dihubungkan dengan kekuatan (power), bagaimanapun, pengertiannya tetap berbeda. ‘Kekuatan’ lebih merujuk pada kemampuan untuk suatu pencapaian, sedangkan otoritas lebih kepada legitimasi, justifikasi, dan hak untuk mempraktekkan suatu kekuatan.
Sejak kemunculan social science, otoritas menjadi subjek penelitian dalam berbagai lingkup, seperti dalam keluarga (parental authority), kelompok-kelompok kecil (informal authority of leadership), lingkup sosial seperti sekolah, rumah ibadah, industri dan birokrasi serta termasuk kedalamnya studi mengenai kelompok-kelompok non-modern seperti masyarakat suku (tribal).
Dalam funtionalism, otoritas didefinisikan sebagai ‘kekuatan’ yang dikenal terlegitimasi (sah) dan terjustifikasi (dianggap benar) oleh pemegang kekuasaan maupun yang tidak memegang kekuasaan.
Otoritas tradisional, timbul dari adat yang sudah dibangun dalam waktu yang lama, seperti kebiasaan dan struktur sosial saat kekuasaan diwariskan dari generasi ke generasi. Contoh otoritas jenis ini didapat di monarki seperti keluarga Tudor di Inggris atau keluarga Mewar di Rajashtan India.
Otoritas rasional-hukum, dibentuk dari legitimasi yang berdasar pada aturan formal, biasanya tertulis dan cenderung kompleks. Kekuatan otoritas rasional-hukum biasanya dimuat dalam konstitusi seperti kecenderungan yang terjadi pada masyarakat modern, seperti misalnya terbentuknya aparat pemerintah.
Otoritas karismatik, membentuk individu menjadi pemegang peran yang penting. Otoritas karismatik didapatkan dari bakat dan keanggunan. Contoh otoritas seperti ini misalnya tokoh politik atau entertainer. Sejarah telah menjadi saksi bahwa sekian revolusi melawan sistem tradisi ataupun hukum di dorong oleh otoritas karismatik.
Sejak kemunculan social science, otoritas menjadi subjek penelitian dalam berbagai lingkup, seperti dalam keluarga (parental authority), kelompok-kelompok kecil (informal authority of leadership), lingkup sosial seperti sekolah, rumah ibadah, industri dan birokrasi serta termasuk kedalamnya studi mengenai kelompok-kelompok non-modern seperti masyarakat suku (tribal).
Dalam funtionalism, otoritas didefinisikan sebagai ‘kekuatan’ yang dikenal terlegitimasi (sah) dan terjustifikasi (dianggap benar) oleh pemegang kekuasaan maupun yang tidak memegang kekuasaan.
Otoritas tradisional, timbul dari adat yang sudah dibangun dalam waktu yang lama, seperti kebiasaan dan struktur sosial saat kekuasaan diwariskan dari generasi ke generasi. Contoh otoritas jenis ini didapat di monarki seperti keluarga Tudor di Inggris atau keluarga Mewar di Rajashtan India.
Otoritas rasional-hukum, dibentuk dari legitimasi yang berdasar pada aturan formal, biasanya tertulis dan cenderung kompleks. Kekuatan otoritas rasional-hukum biasanya dimuat dalam konstitusi seperti kecenderungan yang terjadi pada masyarakat modern, seperti misalnya terbentuknya aparat pemerintah.
Otoritas karismatik, membentuk individu menjadi pemegang peran yang penting. Otoritas karismatik didapatkan dari bakat dan keanggunan. Contoh otoritas seperti ini misalnya tokoh politik atau entertainer. Sejarah telah menjadi saksi bahwa sekian revolusi melawan sistem tradisi ataupun hukum di dorong oleh otoritas karismatik.
Definisi Teknik
PrintmakingReferensi senimanPrintmaking atau seni cetak grafis adalah teknik membuat cetakan, atau lebih tepatnya, teknik penggandaan. Pencitraan di atas matrix (acuan cetak) dengan berbagai medium kemudian dicetak keatas kertas setelah melalui proses penintaan. Proses penggandaan ini menjadi ciri khas printmaking yang kemudian dikenal di Indonesia dengan sebutan seni grafis. Printmaking memiliki sifat-sifat khas yang terdiri dari empat teknik konvensional yaitu: teknik cetak tinggi atau relief print (woodcut / hardboardcut), teknik cetak dalam (intaglio), teknik cetak datar (planography / lithography), dan teknik cetak saring atau serigraphy (screen printing atau sekarang lebih dikenal dengan teknik sablon). Teknik cetak tinggi merupakan yang paling sederhana, prinsipnya sama seperti stempel dimana bagian yang lebih tinggi akan tercetak.
Printmaking pada awal kemunculannya hanya digunakan sebagai media dokumentasi, media komunikasi, dan propaganda bagi penyebaran agama, informasi sosial masyarakat, ilustrasi buku dan sebagainya, dan tidak dipertimbangkan sebagai karya seni. Pada abad 18 dan 19, printmaking mulai dipertimbangkan untuk diakui menjadi karya seni yang baku seperti halnya seni lukis dan seni patung. Albrecht Durer dan Rembrandt menjadi dua nama seniman yang diperhitungkan. Durer menandai sejarah awal printmaking diakui sebagai seni, sementara Rembrandt dengan teknik etching yang sempurna menghasilkan karya-karya religius. Katsuhiko Hokusai, seorang seniman Jepang menciptakan banyak gambar dan cetakan yang menjadi inspirasi bagi seniman-seniman Eropa. Pada abad 20, printmaking pun menjadi semakin berkembang dari eksplorasi teknik konvensional hingga penemuan teknik-teknik baru yang tidak hanya terjadi di Eropa, namun juga Asia, khususnya Jepang dan China.
Bangsa Cina di awal abad ke-5 menggunakan woodcut diatas tekstil untuk kitab berisi doa sang Budha. Bangsa Jepang sekitar abad ke-8 membuat jiplakan wajah Budha dengan teknik yang sama. Awal abad 15, woodcut pertama dicetak diatas kertas untuk citraan keagamaan, hampir bersamaan dengan terciptanya materai dan cap kerajaan di Inggris. Pertengahan abad 15, cetakan bible pertama dibuat oleh Guttenberg di jerman. Sebelumnya Guttenberg menciptakan mesin cetak pertama. Dia juga menciptakan metal letter dan mengkombinasikannya dengan linocut hingga menghasilkan gambar dan tulisan secara bersamaan.
Lithography ditemukan oleh Alois Senefelder pada akhir abad 18 setelah 10 tahun sebelumnya Simon Schmid menemukan logika tentang stone-etching. Teknik cetak datar ini memiliki proses yang rumit dan kimiawi sehingga sering disebut juga sebagai cetak kimia. Cetakan lithography awal adalah partitur lagu milik Franz Gleisner yang dicetak sebanyak 120 lembar.
Cetak saring baru mulai digunakan untuk seni pada awal abad ke-20 di amerika dan terkenal karena munculnya gaya seni pop-art. Awal abad 20 silk-screen printing dipopulerkan oleh seniman-seniman amerika pengusung pop-art seperti Roy Lichtenstein dan Andy Warhol.
Teknik cetak dalam atau Intaglio memiliki ciri khas sendiri; mulai dari proses pengasaman (etching), torehan langsung (drypoint), hingga berbagai macam eksplorasi teknik intaglio lainnya. Mungkin karena banyaknya eksplorasi pada tekhnik intaglio, teknik ini menjadi lebih populer di kalangan seniman. Pada tahun 1446, intaglio pertama muncul di jerman dan kemudian menyebar ke Italia dan beberapa kota di Eropa. Pada awalnya, torehan pada metal terbatas pada emas dan baju perang namun perlahan-lahan berkembang menjadi teknik reproduksi.
Drypoint-IntaglioJika teknik woodcut memiliki keutamaan pada citraan ekspresif dengan efek warna-warna pekatnya di atas acuan kayu, lithography dengan keistimewaan pada pengejaran riil yang melebihi keistimewaan arsiran pensil di atas kertas, dan serigraphy yang lebih populer sebagai seni industri cetak sablon dengan keleluasaan kombinasi teknis fotografinya; maka, dengan material utamanya yang berupa jarum baja di atas acuan cetak pelat logam (tembaga, besi, stainless-steel, kuningan dan seng), keistimewaan drypoint-intaglio yaitu dapat menghasilkan setiap kepekatan objeknya dari citraan garis-garis tipisnya yang meski menyerupai detil gambar pensil, namun tetap memiliki karakteristiknya tersendiri.
Intaglio adalah salah satu teknik printmaking yang paling populer. Kata intaglio sendiri berasal dari bahasa latin intagliare yang berarti menakik / mencarik atau ‘to incise’ dalam bahasa Inggris. Teknik ini adalah teknik cetak dalam yang berarti permukaan yang lebih rendahlah yang akan tercetak. Printing area berada di bawah permukaan matriks. Intaglio sendiri memiliki beberapa cakupan teknik, diantaranya adalah: etching, drypoint, metal-engraving, softground-etching, aquatint, mezzotint, relief-etching dan photo-etching.
Pada intaglio terdapat dua jenis proses berdasarkan medium pelat acuan cetak, yaitu cold process dan warm process. Cold process adalah teknik intaglio yang tidak melalui proses pengasaman, seperti dry-point, metal-engraving dan mezzotint. Warm process adalah tekhnik intaglio yang melalui proses pengasaman, diantaranya adalah etching, soft-ground etching, aquatint, relief etching dan photo-etching. Karakter garis yang dihasilkan oleh warm process sangat mulus karena menggunakan asam untuk membuat kedalaman garis pada pelat.
DrawingPada dasarnya, drawing atau menggambar merupakan ekspresi seni visual dua dimensi yang penggunaan materialnya beragam. Seperti misalnya menggunakan pensil, graphite, charcoal, conte, pena dan tinta, pena semprot, marker, stylus (pena stensil), pensil warna, crayon, pastel, kapur, atau variasi logam seperti silverpoint / metalpoint. Dalam penggarapan maupun visualnya, setiap material yang digunakan memiliki karakter dan keistimewaannya masing-masing. Para master-drawing di Abad Pertengahan biasanya dianggap sebagai konseptor dimana karyanya lebih difungsikan sebagai rancangan dasar bangunan, sketsa lukisan atau patung, disamping karya drawing itu sendiri bisa menjadi karya seni yang utuh dan disejajarkan dengan karya seni lukisan.
Medium pendukung untuk drawing yang digunakan pada umumnya yaitu kertas. Pada perkembangannya, banyak seniman yang menggunakan medium alternatif seperti kanvas, plastik, kulit hingga papan kayu dan lain sebagainya sejauh dapat mencapai visual yang diinginkan.
Disamping lukisan dan patung, para seniman Barat dari abad 15 hingga 20 yang karya-karya drawing-nya terkenal diantaranya, Leonardo da Vinci, Albrecht Durer, Rembrandt, Francisco Goya, Edgar Degas, Van Gogh hingga Picasso.
Ketertarikan kepada beberapa perupa dunia menjadi pengaruh yang cukup berarti bagi setiap karya-karya penulis; seperti diantaranya adalah Albrecht Durer dengan kekhasan garis arsirannya. Kecenderungan nuansa statis bidang kotak pada karya penulis tidak disangkal datangnya dari pengaruh visualisasi Escher dan terutama Hockney, meskipun citraan Hockney sendiri tidak se-agresif citraan Escher yang lebih cenderung transformatif dan dinamis.
Jika dapat dikatakan perbedaanya; Escher mencitrakan bidang kotak sebagai bentuk transformasi awal, sementara Hockney justru cenderung memecahkan objek citraannya dengan bidang kotak-kotak tersebut. Bagaimanapun realisasinya, monotoni statis bidang kotak yang dicitrakan Hockney sangat mempengaruhi visualisasi pada karya-karya penulis. Sementara pada teknik dan medium yang digunakan, penulis lebih terpengaruh oleh Durer, dari segi teknik intaglio maupun drawing yang digunakannya.Perupa Indonesia, FX Harsono, dengan tematika sosialnya yang sarat akan isyu politik dan budaya, banyak mengangkat figur dirinya sendiri menjadi semacam ikonisasi yang mewakili etnis China di Indonesia sebagai kaum minoritas yang tertindas. Pada beberapa citraan figur dirinya sendiri tersebut – yang mana dari sudut pandang yang berbeda, visualisasi tersebut dapat digolongkan sebagai bentuk narsisme, Harsono membentuk pose-pose yang cukup agresif, tidak lazim, bahkan ekstrim, yang dibuatnya sebagai bentuk kegelisahan seorang individu manusia. Dari segi ini, pemilihan karakter pada karya-karya Harsono mempengaruhi karakteristik objek di dalam karya-karya penulis.
Dari beberapa referensi yang dituliskan di atas itulah, penulis seakan terbawa dalam paradigma para perupa diatas dengan menghasilkan sebuah sudut pandang yang baru di dalam pencitraan karya penulis sendiri, khususnya pada karya Tugas Akhir ini. Namun begitu adanya, penulis meyakini bahwa beberapa karakteristik karya perupa besar di atas, pada akhirnya nanti akan ditinggalkan dan sekiranya akan menjadi nilai orisinalitas yang utuh bagi penulis sendiri sebagai bagian dari seni rupa kontemporer, khususnya di dalam medan sosial seni di Indonesia.
Pemaknaan yang terdapat pada karya Durer, “Melencolia 1”, sebagai salah satu referensi dasar penulis; melancholy, melancholic atau mellow berarti kegelisahan, kesedihan, kemurungan jiwa.Sosok bersayap mewakilkan melancholy, yang meletakkan kepalanya di atas tumpuan tangannya dalam pose reflektif dengan memegang jam kompas. disekelilingnya terdapat bangun-bangun geometris, peralatan pertukangan, skala pada permukaan dinding, bel dan jam pasir. Terdapat seekor anjing tertidur di kaki melancholy dan sesosok makhluk yang mirip dengan kelelawar sedang memegang tulisan ‘melencholia 1’; dua ekor binatang ini berhubungan dengan perasaan melancholy itu sendiri. Disini, melancholy dianggap sebagai kekuatan positif dan negatif pikiran. Walau pengertian yang tepat dari gambar ini masih sulit ditangkap, gambar ini cenderung memaparkan hubungan kreatifitas dan melancholy. Saat melancholy dapat menghilangkan antusiasme kreatif, disaat yang bersamaan, melancholy juga merupakan bagian dari seorang yang kreatif sekaligus kompleks. Bagaimanapun, “Melencolia 1” dianggap sebagai salah satu karya dengan pencapaian artistik tertinggi Durer dengan teknik engraving-intaglio, disamping dianggap yang paling kompleks diantara karya-karya Durer lainnya.
POTRET OTORITAS DIRI
Bahasan Umum
Pada kehidupan di masa seperti sekarang ini, di dalam segala bidang kehidupan sekiranya hampir tidak ada yang benar-benar baru, dalam artian orisinil; dalam hal ini, yaitu bidang lingkup seni rupa. Meskipun tidak bermaksud menyamai, mencontek ataupun menjadi ‘pengekor’, bagaimanapun, hampir setiap perupa sekiranya memiliki tinjauan referensi yang berasal dari banyak perupa besar terdahulu dengan masing-masing bentuk karakteristiknya yang kemudian menjadi populer di masa-masa setelahnya; begitupun juga dengan penulis.
Konsep Gagasan
Penulis sangat menyadari bahwa setiap individu manusia memiliki latar belakangnya masing-masing yang sangat menarik jika ditelusuri lebih dalam lagi. Dengan begitu, seringkali seniman terdorong untuk selalu peka dalam mengenali dirinya sendiri dengan sedalam-dalamnya disamping juga terhadap fenomena yang terjadi pada lingkungan sekitarnya. Setiap hal yang telah dilalui, memori tersebut sekiranya harus dapat disimpan dengan baik sebagai modal gagasan dalam berkarya.
Tematika utama pada karya ini adalah sosok individu penulis sendiri yang menjadi bagian dari sebuah keluarga. Pada keseluruhan figur citraan penulis yang berjumlah delapan buah karya seri ini adalah, ayah, ibu, tiga orang kakak perempuan, satu kakak laki-laki, satu adik perempuan dan diri penulis sendiri, ditambah dua buah figur penulis sendiri sebagai reaksi terdalam dari pemaknaan delapan karya yang sebelumnya.
Tematika utama pada karya ini adalah sosok individu penulis sendiri yang menjadi bagian dari sebuah keluarga. Pada keseluruhan figur citraan penulis yang berjumlah delapan buah karya seri ini adalah, ayah, ibu, tiga orang kakak perempuan, satu kakak laki-laki, satu adik perempuan dan diri penulis sendiri, ditambah dua buah figur penulis sendiri sebagai reaksi terdalam dari pemaknaan delapan karya yang sebelumnya.
Potret KeluargaPada setiap karya, terdapat figur anggota keluarga penulis, yang mana disetiap visual anggota, dimasukkan sosok penulis sendiri dengan potongan-potongan gambar yang kasar. Bagaimana tema potret keluarga atau family portrait bisa menjadi penting bagi penulis adalah pada saat penulis menyadari bahwa keluarga merupakan lingkungan kecil yang mana lingkungan tersebut sekiranya justru menjadi modal dasar pembentukan psikologis bagi setiap individu.Mengambil pendekatan pada konsep otoritas tradisional dan rasional-hukum, yang mana dalam suatu kelompok masyarakat terbentuk suatu aturan baik formal maupun non-formal yang sifatnya kompleks dan berkelanjutan; latar belakang hidup penulis adalah berasal dari sebuah keluarga yang kompleks dan birokratis. Dalam mendidik, Ayah dan Ibu, sebagai tulang punggung keluarga memiliki standarisasi yang rigid bagi anak-anaknya. Meskipun di samping itu, kedua orang tua juga tidak memaksakan aturannya secara langsung, namun penyikapan yang ditunjukkan sarat akan makna yang demikian.Dengan adanya kedudukan lima orang kakak yang lebih tua dari penulis, sudah sewajarnya, sejak kecil hingga dewasa, figur kakak telah menjadi standarisasi baik dari segi positif maupun negatifnya. Jika mereka telah berbuat kesalahan, maka penulis sebagai adik, dituntut agar bertindak lebih baik dengan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut. Sementara jika mereka melakukan hal yang positif, maka penulis akan dibayang-bayangi oleh reputasi tersebut, misalnya dalam hal prestasi akademik.Permasalahan paling besar yang dirasakan oleh penulis yaitu pada saat penulis akan melanjutkan jenjang pendidikan sekolah tinggi dengan memilih jalan untuk menjadi calon seniman ditengah-tengah kenyataan bahwa keluarga penulis adalah indidvidu yang awam akan seni. Meskipun tidak melarang, namun, jalan yang tidak mendapat dukungan tersebut masih terus berlangsung hingga kini. Bagi orang tua penulis, bentukan suatu pekerjaan adalah dengan bekerja di balik meja: berpenampilan lengkap dengan kemeja, dasi dan sepatu kulit. Jelas stereotip seniman dalam artian kuno tidak masuk dalam pengkotakkan ‘pekerjaan ideal’ tersebut.Disaat semua anggota keluarga memilih berada dalam ‘kotak’ pekerjaan ideal tersebut (yaitu menjadi seorang pekerja dalam suatu tatanan instansi ataupun perusahaan), penulis pada akhirnya tetap memilih untuk berada di ’luar’ kotak tersebut. Maka timbulnya benturan-benturan akibat perbedaan sudut pandang ataupun metode berfikir telah menjadi hal yang biasa terjadi pada saat penulis menjalani kehidupan sebagai bagian dari suatu keluarga. Perbenturan ini sekiranya disebabkan karena adanya perbenturan sistem yang sama kuat dan sama kaku. Perbenturan inilah yang dicitrakan penulis melalui visualisasi karya ‘potret otoritas diri’, dimana berbagai pengalaman yang terjadi pada kehidupan keluarga yang melibatkan penulis baik langsung maupun tidak, telah memberikan memori tersendiri yang sekiranya akan terus terbawa hingga di masa depan.
Otoritas dan Pemeranan FigurSifat pengkotakkan yang dimunculkan oleh orang tua penulis dimunculkan dengan monotoni kotak simetris sebagai simbolisasi rigidity (kekakuan), statis, sarat akan kesan yang dingin. Hal demikian sedikit berbeda dengan pencitraan David Hockney yang menjadi salah satu acuan karya-karya penulis; dimana Hockney – dengan medium fotografinya – memunculkan monotoni kotak sebagai pengaturan komposisi dari permainan kolase foto polaroid.Dengan kata lain, bidang kotak pada citraan penulis menjadi gambaran akan metode didikan yang dibentuk oleh orang tua penulis. kotak tersebut berbentuk persegi dengan sudut-sudut dan sisi-sisi yang sama menunjukkan satu keseimbangan yang absolut, yang sifatnya konstan dan cenderung monoton. Sementara, bentukan kotak pada figur diri penulis yang cenderung dinamis menjadi penggambaran ego dan emosionalitas penulis dalam menghadapi setiap anggota keluarga tersebut. Kompleksitas dalam hubungan sesama anggota keluarga dengan permasalahannya masing-masing disimbolkan dengan kerumitan torehan pada visualnya.Penyosokkan potret diri pada setiap figur anggota keluarga yang dimasukkan secara kasar menyimbolkan suatu bentuk penyampaian, bahwa keberadaan penulis merupakan bagian dari mereka, karena apapun alasannya, perbedaan pikiran tidak berarti menghancurkan keharmonisan keluarga.Kerumitan ornamental pada visual, seperti pada pori-pori kulit, pakaian dan instrument pendukung lainnya seperti kursi dan meja, menjadi penjelas atas wujud perasaan penulis yang tidak menentu. Seolah, penulis disini mempertanyakan kembali tentang rigidity itu sendiri; apakah karena sebegitu tertanamnya penyikapan tersebut dari sejak penulis masih kecil, sehingga secara sadar ataupun tidak, jangan-jangan justru rigidity tersebut munculnya terkuat dari dalam diri penulis sendiri? Di sisi lain, monotoni kotak dan kompleksitas garis dapat menunjukkan sifat yang serius, terukur maupun sistematis. Yang perlu dijelaskan juga, detil pada hampir tiap-tiap karya sekiranya sudah tidak lagi begitu penting, karena pengejaran yang ingin dicapai lebih difokuskan kepada segi kerumitannya sebagai pemberi kesan dramatis, dan bukan pada tingkat detilnya.Wajah kosong atau kepala yang hilang, serta sosok kembar pada figur penulis melambangkan identitas tersebut, dimana penulis sedang berada pada fase kebimbangan akan diri penulis sendiri; Pada segi yang lain, wajah yang kosong atau hilang juga melambangkan sifat penulis yang cenderung menutup diri dalam menghadapi keluarga dan sekaligus juga dapat berarti menjadi sebuah bentukan kegiatan dalam merancang kehidupan di masa depan.Pose-pose diri penulis yang cukup hiperbolis seperti pose sedang berbincang, memegang bidak catur maupun merespon pose foto asli keluarga diadaptasi dari pose-pose diri pada pencitraan Harsono. Salah satu contohnya, pada karya “Harga Diri” yang terdiri dari 5 seri, Harsono menampilkan sejumlah potret dirinya sendiri yang menyembunyikan separuh wajahnya sambil menjulurkan lidah.Di depan wajahnya, terdapat masing-masing ikon yang maknanya melompat-lompat antara satu dengan yang lainnya. Dengan teknik blurring-effect (pengaburan) yang halus, perlahan wajahnya mengembang, datar dan berubah menjadi bayang-bayang. Jika mengingat kembali akan garis-garis pikirannya, mengenai permasalahan identitas diri yang tidak berakar pada satu kebudayaan ‘asli’, kritik Harsono disini secara sempit merupakan keluhan atas seputar kelompok-kelompok minoritas yang dianggap rendah dan murah. Bagaimanapun, belum tentu potret dirinya Harsono disini ditampilkannya sebagai sosok diri Harsono secara pribadi, yang jelas, prihal identitas cukup jelas diutarakannya dengan gamblang.
Proses Karya
Pada karya-karya penulis yang keseluruhannya berjumlah sepuluh lembar ini terbagi atas delapan lembar karya printmaking dengan teknik cetak drypoint dan dua lembar drawing dengan material pensil graphite yang semuanya memakai medium kertas. Atas dasar alasan pengejaran nuansa visual yang dramatis, warna yang dicitrakan hanya sebatas warna hitam atau abu-abu saja dan memanfaatkan warna putih dari warna medium kertasnya sendiri.
Dengan meminjam pemaknaan yang terdapat pada karya Durer, “Melencolia 1”, sebagai salah satu referensi dasar penulis; kesan suram, kompleks dan cenderung berkesan tua dalam menyimpan suatu nilai historis menjadi keutamaan penulis dalam memilih bentukan visual karaya penulis sendiri, dimana Durer, dengan berbagai kompleksitas kehidupan pribadinya juga telah menghasilkan dramatisir citraan yang begitu rumit pada visualnya.
Alasan pemilihan teknik drypoint pada karya penulis pun sekiranya demikian. Dengan pendalaman perasan yang digali dari diri penulis sendiri, penulis dapat merasakan sensasi luar biasa pada setiap torehan yang dihasilkan, seperti misalnya dari segi kerumitan visualnya, kesulitan dalam pencapaian untuk pengejaran bentuk realisnya, sekaligus usaha untuk merusaknya kembali dengan kekuatan emosional yang tertanam dari semua pengalaman penulis pribadi.
Pada dua karya drawing terakhir, penulis menerapkan efek wipe-stroke (goresan yang diusap) pada sebagian besar hasil goresan pensil graphite. Pengejaran dari teknik ini sebagai simbolisasi pelepasan dari kompleksitas yang terjalin di dalam diri penulis yang tampak pada karya-karya drypoint. Jika pada pencitraan drypoint, visual yang dihasilkan menampakkan kerumitan garisnya; yang ditekankan pada pencitraan drawing tersebut justru dari segi permainan efek wipe-stroke sebagai simbolisasi diri; dimana fase permasalahan yang mendalam bagi penulis, kini, lebih kepada permasalahan di luar konteks keluarga, yang dalam hal ini berarti terhadap aspek lingkungan dan kehidupan yang baru sedang dan akan dijalankan oleh penulis hingga di masa mendatang.
Pada karya-karya penulis yang keseluruhannya berjumlah sepuluh lembar ini terbagi atas delapan lembar karya printmaking dengan teknik cetak drypoint dan dua lembar drawing dengan material pensil graphite yang semuanya memakai medium kertas. Atas dasar alasan pengejaran nuansa visual yang dramatis, warna yang dicitrakan hanya sebatas warna hitam atau abu-abu saja dan memanfaatkan warna putih dari warna medium kertasnya sendiri.
Dengan meminjam pemaknaan yang terdapat pada karya Durer, “Melencolia 1”, sebagai salah satu referensi dasar penulis; kesan suram, kompleks dan cenderung berkesan tua dalam menyimpan suatu nilai historis menjadi keutamaan penulis dalam memilih bentukan visual karaya penulis sendiri, dimana Durer, dengan berbagai kompleksitas kehidupan pribadinya juga telah menghasilkan dramatisir citraan yang begitu rumit pada visualnya.
Alasan pemilihan teknik drypoint pada karya penulis pun sekiranya demikian. Dengan pendalaman perasan yang digali dari diri penulis sendiri, penulis dapat merasakan sensasi luar biasa pada setiap torehan yang dihasilkan, seperti misalnya dari segi kerumitan visualnya, kesulitan dalam pencapaian untuk pengejaran bentuk realisnya, sekaligus usaha untuk merusaknya kembali dengan kekuatan emosional yang tertanam dari semua pengalaman penulis pribadi.
Pada dua karya drawing terakhir, penulis menerapkan efek wipe-stroke (goresan yang diusap) pada sebagian besar hasil goresan pensil graphite. Pengejaran dari teknik ini sebagai simbolisasi pelepasan dari kompleksitas yang terjalin di dalam diri penulis yang tampak pada karya-karya drypoint. Jika pada pencitraan drypoint, visual yang dihasilkan menampakkan kerumitan garisnya; yang ditekankan pada pencitraan drawing tersebut justru dari segi permainan efek wipe-stroke sebagai simbolisasi diri; dimana fase permasalahan yang mendalam bagi penulis, kini, lebih kepada permasalahan di luar konteks keluarga, yang dalam hal ini berarti terhadap aspek lingkungan dan kehidupan yang baru sedang dan akan dijalankan oleh penulis hingga di masa mendatang.
DESKRIPSI KARYA
Proses Pencitraan Karya Drypoint
Dalam mencitrakan gagasan pada karya-karya Tugas Akhir ini, penulis telah melalui beberapa tahapan proses. Khusus untuk karya drypoint, yaitu sebagai berikut:
FotoMerupakan tahap pengumpulan bahan. Dalam hal ini, ada dua cara yang digunakan, yaitu dengan memanfaatkan foto-foto yang memang sudah ada / foto lama dan juga dengan pemotretan langsung / foto baru. Beberapa foto lama kemudian disatukan dengan foto baru pada bagian wajah demi pengejaran konsep. Dengan jumlah delapan buah karya yang seluruh objeknya adalah figur keluarga inti; ayah, ibu, empat orang kakak dan adik serta penulis sendiri tersebut, khusus pada setiap figur diri penulis merupakan foto baru.
Rekayasa
Setelah pengumpulan, foto yang sudah siap tersebut akan segera diolah dengan komputer (digital editing); pada figur setiap anggota keluarga disatukan secara kasar dengan figur diri penulis sendiri, sehingga terlihat jelas garis kasar pemotongan diantara dua figur tersebut. Seperti halnya teknik printmaking pada umumnya, maka pada setiap foto sebaiknya dibuat dengan sisi terbalik agar hasil cetakannya dapat sesuai dengan gambaran konsep karya.
Selain penghilangan wajah pada hampir seluruh figur penulis sendiri, empat dari keseluruhan foto anggota keluarga juga disatukan dengan latar belakang setting yang sama sekali berbeda demi pengejaran kompleksitas visual yang diinginkan sesuai dengan konsep dasarnya. Langkah setelahnya yaitu dengan mengolah foto-foto tersebut menjadi potongan-potongan monotoni kotak, hingga secara garis besar, keseluruhan visual berkesan kompleks.
SketsaTahap ini dapat dikatakan sebagai studi bentuk. Merujuk pada prinsip teknik drypoint-intaglio – yang terdiri atas garis-garis torehan yang membentuk sebuah citraan dengan penggunaan jarum logam runcing; karena itu penulis perlu membuat semacam simulasi dalam bentuk sketsa dasar dengan media pensil mekanik di atas kertas yang ujung arangnya sekiranya dapat menyerupai hasil torehan jarum intaglio. Bagian-bagian visual yang ingin dicapai pada proses ini yaitu diutamakan pada unsur-unsur tubuh, seperti kulit wajah, tangan dan kaki.
Aplikasi TeknikSetelah selesai membuat sketsa, visual tersebut ditoreh / digambar ulang ke atas pelat logam (tembaga, stainless atau alumunium) setebal 0,8 mm dengan menggunakan jarum baja / busut. Proses ini merupakan tahap terpenting dalam teknik intaglio. Dalam melakukannya diperlukan ketelitian dan kesabaran, karena kesalahan kecil sekalipun dalam menoreh, seperti membuat garis yang berlebihan tanpa sengaja, nantinya akan tetap dapat mempengaruhi hasil akhir di atas kertas.
MencetakTahap terakhir adalah proses mencetak. Gambar yang sudah selesai dibuat, akan dipindahkan ke atas kertas dengan menggunakan mesin cetak intaglio. Contoh hasil akhir citraan di atas kertas dapat dilihat pada gambar.
Pembahasan Karya
Mungkin sekiranya benar seperti yang terdapat di dalam teori psikoanalisis Sigmund Freud; mengatakan tentang kecenderungan seniman – khususnya untuk laki-laki introvert / menutup diri – yang seringkali menghindari gejala-gejala neurotic yang ditimbulkan oleh dorongan seksual yang ditekan, dan hasrat-hasrat di bawah sadarnya dengan memiliki ilusi artistik untuk tetap memiliki hubungan dengan realita yang nantinya akan di arahkan kepada audiens seni. Oleh karenanya, kreatifitas seniman akan berhubungan langsung dengan proses penerimaan informasi dan interpretasi. Walaupun telah mendapat sangkalan dari berbagai ilmuwan, namun teori psikoanalisis telah merubah metode pendekatan psikologi masyarakat terutama dalam konteks masyarakat di Barat. Seniman dianggap sebagai perintis jalan menuju alam bawah sadar, karena dalam pengkaryaannya, seniman menyublimasi keresahan melalui simbolisasi-simbolisasi tertentu.
Dari segi gagasan, penulis meyakini keseluruhan pencitraan disini dapat dikatakan memiliki kepentingan ‘berbagi’ atau ‘sharing’, baik bagi kalangan yang mengalami perasaan serupa maupun tidak sekalipun. Hal yang menarik mengenai dasar pemilihan tematika Tugas Akhir penulis ini yaitu justru dari segi lazimnya pemaknaan yang terkandung di dalamnya. Karya ini merupakan rumusan diri yang didalamnya terdapat pergumulan idividu dengan modernitas dan tradisi dan usah-usah seniman dalam menemukan suatu artikulasi ataupun bahasa-bahasa baru, dan kerinduan akan titik temu ataupun solusi.
Esensi khusus bagi penulis sendiri, pada waktunya, baik yang telah dan akan dilalui, begitu banyak perenungan yang dapat diangkat – seperti halnya politik, sosial, kultural, sejarah, modernitas, religi hingga tematika persahabatan dan juga percintaan; dimana hasrat penulis pada fase di masa-masa sekarang ini justru lebih kepada perenungan diri yang melibatkan keluarga inti penulis sebagai titik tolak kehidupan di masa lalu dan mendatang, sehubungan dengan batas sudut pandang keluarga inti penulis tersebut.
“akhirnya seni menyempal dari dunia eksklusif ciptaannya sendiri lantas melebur dalam kehidupan sehari-hari, ibarat anak hilang yang kembali kepada orangtuanya”.
(bambang sugiharto, modern miring)
Akhir kata, sudah sepantasnya bagi penulis, dengan kesadaran keterbatasan kemampuan dan gagasan, penulis mengharapkan segala bentukan saran dan masukan bagi penulis sendiri dan lebih luas lagi, bagi perkembangan ilmu seni rupa itu sendiri.
Karya DrypointSetiap judul pada karya merupakan panggilan penulis kepada setiap anggota keluarga yang digambar. Pada setiap sosok anggota keluarga sebagai figur utama, terdapat juga figur diri penulis.Karya 1
Karya ini Berjudul “Bapak”, dengan figur utama ayah penulis. Pose penulis dengan respon tangan yang merangkul dan memiringkan kepala ke samping ke arah kepala ayah penulis, di satu sisi, menunjukkan sikap merajuk seperti sikap pada umumnya seorang anak yang meminta dibelikan mainan, yang di sisi lain, pose tersebut juga bermakna satir mengenai gambaran akan hubungan penulis dengan ayah penulis.
Seperti peran ayah pada umumnya, ayah penulis dirumah adalah sebagai tulang punggung keluarga. Sosok ayah bagi penulis adalah sosok yang determinatif, rigid dan birokratis. Mengingat pekerjaan ayah penulis adalah wiraswata sekaligus pendiri wirausahanya sendiri, seringkali, sikap ayah penulis dalam menghadapi penulis tidak berbeda dengan bagaimana beliau menghadapi rekan kerja atau bahkan para karyawannya.
Pengejaran motif batik yang cenderung kuat menjadi penajaman makna akan sifat dan sikap tersebut. Di samping itu juga, motif batik ditandai sebagai salah satu sosok terkuat baik bagi keluarga maupun individu pribadi penulis sendiri. Bagaimanapun, sosok ayah penulis yang memiliki otoritas besar telah menjadi pengaruh terbesar pula dalam membentuk sifat-sifat yang dimiliki oleh penulis.Karya 2
Karya ini berjudul “Mamih”, dengan figur utama ibu penulis. Peran ibu bagi penulis adalah pemegang kendali keluarga. Walaupun peran ayah adalah sebagai tulang punggung keluarga, namun dalam mengendalikan kehidupan keluarga, menentukan bagaimana pola hidup di rumah dan merancang prospek masa depan anak-anaknya sejak dini merupakan peran besar ibu penulis. Namun dalam hal ini, tidak jarang pola pikir yang diterapkan oleh ibu penulis bertabrakan dengan pola pikir anak-anaknya dan bahkan dengan ayah penulis sendiri.
Pemilihan figur ibu dan pose kaku pada visual penulis menunjukkan sikap hormat penulis terhadap ibu penulis. Pencitraan motif kebaya yang meskipun tidak cukup kuat namun tetap rumit sekiranya berdampingan dengan pemaknaan motif batik pada baju figur ayah.Karya 3
Karya ini berjudul “Yayu Erna”, dengan figur utama kakak tertua penulis. Sebagai kakak pertama yang sudah berkeluarga dan tidak tinggal serumah dengan penulis, membuat hubungan antara penulis dengan kakak penulis tersebut agak berjarak. Pembawaannya yang ramah, memiliki toleransi yang tinggi dan perbedaan umurnya yang jauh, membawa penyikapan penulis yang lebih mengarah kepada wujud hormat selayaknya menghormati orang yang lebih tua.Karya 4
Karya ini berjudul “Yayu Lin”, dengan figur utama kakak ke dua penulis. Hubungan penulis dengan kakak kedua ini hampir mirip dengan hubungan penulis dengan kakak yang pertama. Hal tersebut sekiranya ditandai dengan gestur penulis dalam merespon pemilihan figur diri pada keduanya yang agak berjarak. Ornamen pendukung pada figur penulis di dalam kedua karya tersebut yang sedang memegang mug menjadi penjelas akan intensitas hubungan yang sama terhadap kedua kakak penulis.Karya 5
Karya ini berjudul “Yayu Sari”, dengan figur utama kakak ke tiga penulis. Sosok dirinya bagi penulis merupakan sosok skeptis dan intimidatif; tabiatnya yang keras dan egonya yang tinggi seringkali menghancurkan otoritas yang telah dibangun oleh ke dua orangtua penulis, dan kemudian membangun yang baru, yang mana bagi penulis pemikirannya tidak selalu lebih baik, sebaliknya, seringkali merubah persepsi penulis akan nilai-nilai keluarga yang pernah diajarkannya kepada penulis karena seringkali bertentangan dengan dengan apa yang diterapkannya sendiri.
Berbeda dengan visualisasi pada karya “Mamih”, dasar makna pemilihan figur kakak dan gestur kaku pada visual penulis disini lebih menunjukkan sikap menantang ketimbang rasa hormat atau segan sekalipun. Dalam hal ini, sikap menantang lebih diartikan sebagai ego yang menunjukkan tingkat otoritas yang kurang lebih sama, mengingat terjadinya hubungan yang retak antara penulis dengan kakak penulis.Karya 6
Karya ini berjudul “Kak Denny”, dengan figur utama kakak ke empat penulis. Sosok kakak ke empat ini merupakan kakak terdekat penulis, dimana nilai-nilai positif dan sekaligus juga negatif banyaknya didapat dari kakak ke empat ini yang diserap langsung oleh penulis sendiri berdasarkan pengalaman atau penglihatan, dan bukan sekedar dari ucapannya saja. Karena perbedaan umurnya yang cukup jauh dengan penulis, bagaimanapun, akhirnya tetap terbentuk adanya suatu batasan-batasan keakraban antara kakak dan adik.
Gambaran hubungan antara penulis dengan kakak penulis tersebut sekiranya ditandai oleh penulis dari pemilihan gestur penulis dalam merespon figur kakak, dimana pada kenyataannya, otoritas yang terjalin diantara keduanya memang hampir tidak nampak. Jika dibandingkan dengan karya yang lain, disini interaksi yang tampak sekiranya cenderung bersifat lebih lunak dan santai.Karya 7
Karya ini berjudul “Ayu”, dengan figur utama adik penulis. Karena umurnya yang masih sangat kecil; di satu sisi, peran penulis dapat menjadi sosok yang mengayomi, dan di sisi yang lain, bisa jadi sosok penulislah yang justru menjadi sosok intimidatif bagi dirinya. Makna tersebut sekiranya tersirat secara sederhana pada gestur penulis yang ambigu antara seperti sedang mengarahkan adik atau justru sedang mengganggu ketenangannya dalam melakukan aktifitasnya.Karya 8
Karya ini berjudul “Tommy dan saya”, kedua figur yang dicitrakan adalah diri penulis sendiri dengan penempatan tubuh besar dan kecil. Disini, bidang ruang hanya dikuasai oleh penulis sendiri. Hilangnya bidang kosong yang merupakan penggambaran wajah penulis seperti pada karya lain menunjukkan penghilangan jejak indentitas penulis yang dalam hal ini seperti menghindari ‘kotak’, aturan dan pakem dari setiap anggota keluarga penulis, dimana penulis dengan leluasa bisa menampakkan identitas dan aturan-aturan yang diinginkan bagi penulis sendiri. Dengan kata lain, penegasan mengenai kebebasan otoritas bagi penulis adalah pada saat dimana penulis merasakan kesendiriannya.
Pemaknaan pada figur besar penulis yaitu otoritas atas diri penulis sendiri dalam memerintahkan setiap gagasan dan perilaku yang diiringi perasaan ringan dan tanpa beban. Pada figur yang lebih kecil, sosoknya menggambarkan perwujudan dari diri penulis yang lain (alter-ego), atau dapat juga dikatakan sebagai perwujudan hati penulis yang terdalam; yang pada kenyataan sebenarnya, bagaimanapun di balik tertawanya, penulis merasakan keresahan dalam menjiwai esensi kehidupan yang penulis jalani, terutama di dalam keluarga. Disini, otoritas tidak jarang menjadi sikap yang intimidatif bagi pribadi penulis sendiri.
Karya Drawing
Sosok yang diambil sebagai figur utama pada dua karya drawing ini adalah potret diri penulis sendiri. Pada gagasannya disini, penulis sudah meninggalkan permasalahan keluarga dengan lebih mengedepankan permasalahan baru tentang jalan kehidupan penulis untuk kedepannya dalam menghadapi lingkungan di luar keluarga yang lebih luas lagi.Karya 1Karya ini berjudul “Merancang”. Potret diri penulis digambarkan tanpa kepala. Tangan kiri memegang bidak catur Bishop – dengan posisi tangan terlihat bersiap untuk meletakkan bidak tersebut. Sementara itu, pada tangan kanan memegang sebuah bidang persegi menyerupai buku dengan posisi setengah menutupi bagian kepala yang hilang. Pada buku tersebut terdapat wajah penulis sendiri yang melambangkan wujud perasaan penulis.
Kali ini, permasalahan identitas diri yang ditandai dengan kepala yang hilang – seperti pada penampakan kepala tanpa wajah di dalam karya-karya drypoint, lebih mengarah kepada kebimbangan dan keraguan diri penulis terhadap dunia yang sedang dilalui di masa sekarang.
Di hadapan mata figur penulis, terbentang jalan beserta pemeranan setiap individu lain di dalamnya, yang diibaratkan dengan imej bidak dan papan catur. Dengan menghilangkan posisi King, bidak-bidak catur disini menjadi simbol tingkat peranan setiap indidividu di sekeliling penulis, dimana sudah saatnya kini penulis harus lebih menggali potensi terbesar diri penulis sendiri dan merancang strateginya demi kehidupan mendatang yang lebih baik. Bidak King sendiri dihilangkan karena menurut pandangan penulis, sekiranya tidak ada posisi raja di dalam bidang yang penulis tekuni.
Sementara, bidak Bishop pada tangan kiri penulis menjadi sebuah target penulis untuk saat sekarang ini; yang dalam hal ini, Bishop diidentifikasikan dengan sosok pembicara, penengah dan tidak jarang sebagai pemikir sekaligus dapat memerankan posisi sebagai pemberi keputusan dalam situasi-situasi tertentu yang melibatkan banyak individu masyarakat lainnya baik dalam lingkup kecil maupun besar.
Perbedaan warna catur menjadi penanda khusus bahwa peranan masing-masing individu dapat menjadi kawan maupun lawan yang tidak jarang harus saling bersaing melampaui satu sama lainnya. Alasan pada peletakan tiap-tiap bidaknya, sekiranya dimunculkan sebagai pertimbangan komposisi estetis.
Karya 2Karya ini berjudul “Diskusi”. Berbeda dengan konsep karya drypoint “Tommy dan saya”, figur yang dimunculkan pada karya ini merupakan dua figur penulis sendiri yang terlihat sedang saling berbincang, dimana antara figur yang satu dengan yang lainnya tersirat semangat yang menggebu dalam memperbincangkan permasalahan yang serius.
Visualisasi pada karya ini merupakan realisasi visual dari karya “Merancang”. Penyusunan rancangan strategi dan gagasan di dalam diri penulis tersebut diibaratkan dengan perbincangan atau “Diskusi” di antara dua orang yang sama, yang dalam hal ini yaitu penulis sendiri.
PENUTUP
Mungkin sekiranya benar seperti yang terdapat di dalam teori psikoanalisis Sigmund Freud; mengatakan tentang kecenderungan seniman – khususnya untuk laki-laki introvert / menutup diri – yang seringkali menghindari gejala-gejala neurotic yang ditimbulkan oleh dorongan seksual yang ditekan, dan hasrat-hasrat di bawah sadarnya dengan memiliki ilusi artistik untuk tetap memiliki hubungan dengan realita yang nantinya akan di arahkan kepada audiens seni. Oleh karenanya, kreatifitas seniman akan berhubungan langsung dengan proses penerimaan informasi dan interpretasi. Walaupun telah mendapat sangkalan dari berbagai ilmuwan, namun teori psikoanalisis telah merubah metode pendekatan psikologi masyarakat terutama dalam konteks masyarakat di Barat. Seniman dianggap sebagai perintis jalan menuju alam bawah sadar, karena dalam pengkaryaannya, seniman menyublimasi keresahan melalui simbolisasi-simbolisasi tertentu.
Dari segi gagasan, penulis meyakini keseluruhan pencitraan disini dapat dikatakan memiliki kepentingan ‘berbagi’ atau ‘sharing’, baik bagi kalangan yang mengalami perasaan serupa maupun tidak sekalipun. Hal yang menarik mengenai dasar pemilihan tematika Tugas Akhir penulis ini yaitu justru dari segi lazimnya pemaknaan yang terkandung di dalamnya. Karya ini merupakan rumusan diri yang didalamnya terdapat pergumulan idividu dengan modernitas dan tradisi dan usah-usah seniman dalam menemukan suatu artikulasi ataupun bahasa-bahasa baru, dan kerinduan akan titik temu ataupun solusi.
Esensi khusus bagi penulis sendiri, pada waktunya, baik yang telah dan akan dilalui, begitu banyak perenungan yang dapat diangkat – seperti halnya politik, sosial, kultural, sejarah, modernitas, religi hingga tematika persahabatan dan juga percintaan; dimana hasrat penulis pada fase di masa-masa sekarang ini justru lebih kepada perenungan diri yang melibatkan keluarga inti penulis sebagai titik tolak kehidupan di masa lalu dan mendatang, sehubungan dengan batas sudut pandang keluarga inti penulis tersebut.
“akhirnya seni menyempal dari dunia eksklusif ciptaannya sendiri lantas melebur dalam kehidupan sehari-hari, ibarat anak hilang yang kembali kepada orangtuanya”.
(bambang sugiharto, modern miring)
Akhir kata, sudah sepantasnya bagi penulis, dengan kesadaran keterbatasan kemampuan dan gagasan, penulis mengharapkan segala bentukan saran dan masukan bagi penulis sendiri dan lebih luas lagi, bagi perkembangan ilmu seni rupa itu sendiri.
* * * * * *
DAFTAR PUSTAKA
BukuSitus Resmi
- Alfaro, Veronica Slagado. “Freud’s critical theory on the application of Psychoanalysis in Art” (The Oedipus Complex and Hamlet).
- Harsono, FX. “Displaced”. F Budi Hardiman, Hendro Wiyanto dan FX Harsono dalam katalog pengantar Pameran. 2003.
- Himawan, Willy. “Family Portrait”. Pengantar Tugas Akhir Seni Lukis. 2005.
- Osborne, Richard. “Freud for Beginners: Freud’s Concept of The Family”. 1993.
- Tabrani, Primadi. “Proses kreasi, apresiasi, belajar”. Penerbit ITB, Bandung. 2000.
- Siregar, Aminudin TH. “Apakah Seni Itu?: Beberapa Pemikiran Seputar Dunia Seni Rupa".
- Sumardjo, Jakob, “Filsafat Seni”. Penerbit ITB, Bandung. 2000.
- Wise, Susan. “European Portraits 1600-1900, essay “A Commentary on the development of portraiture, 1978; The Art Institute of Chicago Library, Chicago.
- Yuliman, Sanento. “Dua Seni Rupa: Sepilihan Tulisan”. 2001.
Alchemy Lab, Interpretation of this Drawing (by John Read): “Melencolia I”, Albrecht Durer, www.alchemylab.com/melancholia.htm.- Albrecht Durer, www.wga.hu/frames-e.html?/bio/d/durer/biograph.html.
- David Hockney, www.davidhockney.com.
- M.C. Escher, www.mcescher.com.
- the-artist.org: “History of Printmaking”, www.the-artists.org/search/prints-h.cfm.
- The Johns Hopkins Guide To Literary Theory & Criticism, 1994.
- Wikipedia, The Free Encyclopedia: “Authority”, “Printmaking”, “Portrait”.
TERIMA KASIH
Saya haturkan dengan tulus dan sebesar-besarnya kepada,
Tuhan YME, atas karunia dan kompleksitasNya. Maafkan untuk setiap kelalaian saya dalam mengingat-Mu.
Bapak dan Mamih atas setiap jengkal kehidupan yang telah diberikan; sebuah bentukan otoritas determinatifnya yang justru memberikan saya kekuatan baru untuk menjalankan sebuah arti hidup.
Yayu Erna, Yayu Lin, Yayu Sari, Kak Denny dan Ayu, beserta seluruh keluarga besar atas dorongan batinnya sebagai motivasi dan modal gagasan-gagasan saya.
Oom boy, atas segala pengharapannya yang selalu bersifat positif dan mendorong.
Keluarga Mama Sri beserta Oom Panca dan adik-adik. Terima kasih atas kenyatannya.
FSRD ITB beserta induknya, terima kasih atas setiap lembaran hidupnya. Kolom-kolom di dalamnya memuakkan namun begitu luar biasa; Para Dosen, terutama Seni Murni. Serta setiap pihak birokrasi di dalamnya; Fakultas dan Tata Usaha.
Para Dosen Pembimbing sejak TPB hingga TA; Pak Muchsin, Bang Ucok, Pak Tisna, Bu Nuning dan Bu Irma. Beserta para konsultan yang turut membantu sepanjang masa perkuliahan saya; Devy Ferdianto, Bang Alit, Fredria.
Galeri SOEMARDJA, atas berbagai referensi dan literaturnya. Beserta setiap sosok individu yang berada di dalamnya.
Angkatan 2002. Arogansi kalian sampah; biar, sadarilah, dengan itu kita satu.
KMSR dan terutama sekali, semua rekan-rekan Seni Grafis KGB. Salute.
Ibnu, Beben, Dimas Arif, Henry, Butink, Acu, Yogi, Ucup, Arum, Adri, Anu, Rhily, Tito, Amet, Astri, Pe’o, Keni, Isal, Andit, Toan, Andro, Usman, Teppy, Cungkring, Ate, Rais, Poji, Koko, Agung, Magi; you are all such the great consultants, drafters and assistants. That was such a very nice companionship.
Sally Texania, atas dorongan moril dan segala bentukan gagasan cerdas berikut skeptisitas dan energi transendensinya yang peranannya tanpa pernah henti terus memberikan ruang baru bagi saya untuk bernafas.
Durer, Rembrandt, Escher, Hockney, Warhol, Harsono, Suwage.
Rezky, Rifa, Fido, Raka, Etha. Tanpa ‘sosok’ kalian, hidup saya hampa. Terima kasih, saya tidak sendiri. Mari hidupkan UNprojected. Teriakkan dengan lugas.
Semua pihak individu yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Terima kasih.
Untuk Tuhan, Bangsa, Almamater dan Jalan saya.
Saatnya menoreh sejarah.



















No comments:
Post a Comment