back to main page

"KICK!", a 1st solo exhibition (2009)



Berita Pers

Pameran Seni Rupa "KICK!", oleh Tommy Aditama Putra.
29 April - 29 Mei 2009.

Pembukaan: Rabu, 29 April 2009. Pkl 19.00 WIB.

Tempat: Langgeng Icon Gallery. Jl. Kemang Raya I #.1, Jakarta.
www.langgeng.net

URAIAN SINGKAT

Pada pameran tunggal pertamanya di Langgeng Icon –Jakarta ini, Tommy meng-‘kick’ wajah-wajah para perupa muda yang notabene adalah kenalan terdekatnya. perupa muda dari Kota Kembang yang sedang ‘naik daun’ seperti: Ariadhitya Pramuhendera, Wiyoga Muhardanto, Radi Arwinda, Tisa Granicia, Yusuf Ismail, Yogie Achmad Ginanjar, Cinanti Astria Johansjah, Willy Himawan dan lainnya. Lewat drawing diatas kertas dan kanvas. Wajah mereka lebam di beberapa bagian hingga sulit dikenali, namun mimik mukanya tampak tidak bergeming atau merasa kesakitan. Sebaliknya gestur tubuh dan tatapan mata mereka menunjukan sebuah perlawanan walau babak belur. Sebagian tangan mereka seperti hendak menahan tendangan yang akan ditujukan pada mereka. Tapi justru dengan watak potret yang kontradiksi seperti ini seri karyanya menjadi lebih menonjol unsur humor dibalik imaji kekerasan itu.

Belajar dan lulus dari studio seni grafis ITB tahun 2008, Tommy memang terpengaruh -besar atau kecil- dari para dosennya. Tisna Sanjaya dan Aminudin Siregar / Ucok sebagai dosen telah membekalinya dengan ‘nature’ seni grafis mutakhir, alih-alih kekuatan estetik seni grafis membuat mereka fasih terhadap bahasa “hitam-putih” dengan garis dan juga teknik shading (usap manual), tanpa harus selalu melulu melalui alat cetaknya. Justru sensibilitas mereka terhadap persoalan konsepsi terasa begitu tajam. Keberhasilan menjadikan drawing arang dan pensil sebagai medium utama mungkin patut kita berikan penghargaan dalam praktik seni rupa di tanah air. Karena selama berpuluh tahun hanya seni lukis dengan cat minyak dan akrilik yang mendominasi dan dimitoskan pasar. Keparipurnaan drawing seolah memberikan jalan bagi banyak medium ungkap lainnya, tapi juga hal ini membuktikan bahwa ketajaman konsepsi seorang perupa menjadi lebih penting. Faktor ini pula yang membuat seni lukis kontemporer terus berkibar di pasar. Mungkin seperti juga fotografi hitam-putih, yang menjadi klasik dan abadi karena kesederhanaan namun juga punya dimensi yang unik serta jujur.

Tommy seolah menorehkan tanda jaman dengan ambiguitas yang unik dan khas. Memberi makna baru secara pribadi untuk menghargai potret orang-orang yang ada disekitarnya dengan sebuah tendangan atau 'kick'. Dengan penggambaran orang-orang yang tersudut, babak belur namun tak ingin menyerah. Malah balik menantang untuk melawan.

“Disinilah saya ikut berperan sebagai ‘penoreh’ sejarah. Generasi setelah saya akan dapat mengenali siapa Wiyoga Muhardanto, siapa Tisa Granicia, Tinton Satrio, Yusuf Ismail, dan lain-lain. Minimal, seorang Sio Sandrajaya pun membuktikan bahwa sudah menjadi peluang dasar bagi seorang perupa untuk dapat dihargai secara luas, namun di sisi yang sama, tidak semua perupa dapat memaksimalkan potensinya dan memanfaatkan kesempatan yang ada dengan baik ataupun dengan cerdas”
, ungkapnya.


Seri "Kick!" karya Tommy membangun imajinasi yang penuh kebrutalan namun dengan intim dan puitik sekaligus politis. Merepresentasikan hubungan-hubungan ‘benci tapi rindu‘ terhadap pengalaman pribadi serta lingkungan sekitarnya, dengan menandai suatu sejarah bagi generasinya sendiri. Bisa jadi melalui potret teman-teman dan kenalannya, ia menjadikannya wahana atau sebagai suatu cermin diri untuk memahami dan mengartikulasikan ‘siapa aku’ serta posisinya dalam arena kesenian.

Rifky Effendy (kurator)

_____________________________________________________________________________________________________


HALL OF FAME
displaying I opening


28-29 April 2009. Langgeng Icon Gallery. Kemang Icon, Jakarta.
Photo doc. by Annisa Utami, Michael Binuko, Wibowo Arif, Angga A Praja, Anita Yustisia.
(click image to larger view)


















_____________________________________________________________________________________________________







"KICK!" the series
Interviewed by Frino Bariarcianur (FB), beritaseni.com. Via email, 2009


FB:
Alasan memilih drawing arang dan pensil sebagai medium?


TAP: Drawing itu teknik. Bagi perupa, drawing itu basic –sebagai sketsa maupun karya jadi. Arang, pensil -dalam hal ini, graphite- itu medium (medium kering). Alasan teknik dan medium yang saya pakai saat ini yaitu sebagai salah satu alternatif berkarya.
Sebagai lulusan Studio Seni Grafis, sudah barang tentu saya tidak akan meninggalkan teknik-teknik dasar dari seni grafis konvensional yang pernah saya tuntut. Kejenuhan saya saat ini terhadap teknik seni grafis lebih karena alasan fasilitas dan proses-kinerja saya sendiri. Bisa dibilang saat ini saya perlu ‘kepuasan’ dulu; masa dimana saya bisa ‘main’ jebrat-jebret tanpa banyak menimbulkan rasa penasaran seperti pada saat saya menunggu hasil cetakan karya grafis yang sarat akan faktor keberhasilan dan kegagalan itu.
Contoh kasus; waktu efektif yang saya butuhkan untuk membuat 1 buah karya drawing berukuran 200x100cm yaitu sekitar 2-3 hari. Sementara untuk membuat 1 buah karya dry-point (teknik grafis favorit saya) berukuran 80x60cm bisa memakan waktu yaitu sekitar 1 minggu.
Bagaimanapun, prihal waktu sifatnya memang tentatif. Banyak faktor pendukung. Masalahnya, untuk bisa memakai –misalnya mesin cetak grafis intaglio, berarti saya harus ke Studio Seni Grafis di kampus. Mengajukan surat izin pemakaian sebagai status alumni, dll. Atau bisa juga ke studio grafis milik mas Deden Hendan & pak Tisna Sanjaya atau ke pak Devy Ferdianto. Namun tentunya manajemen pengkaryaan saya juga sudah harus lebih matang, karena tidak bisa sembarangan memakai fasilitas-fasilitas tersebut, ...namanya juga pinjam. Intinya, saya memang belum se-profesional itu sebagai seniman muda.
Lho, itu, anu, jawaban saya tidak keluar dari konteks pertanyaannya, kan?

FB:
Apakah wajah seniman yang babak belur menjadi simbolisasi dari kondisi perupa saat ini?

TAP: Simbolisasi kondisi mereka? Tidak. Simbolisasi-pandangan pribadi saya terhadap mereka? Ya.

FB: Kenapa membuat visualisasi babak belur?

TAP: Secara menyeluruh –sederhananya, babak belur menunjukkan rasa ‘benci tapi rindu / sayang’. Rasa ‘benci’, menerima kenyataan bahwa objek-objek yang saya citrakan itu sosok terkenal (paling tidak, pastinya lebih terkenal dari saya. ..hehe). Dan sekaligus rasa ‘sayang’ (wujud dedikasi), terhadap objek-objek tersebut. Bukan berarti yang tidak saya citrakan berarti tidak saya sayangi. Namun, yang saya lakukan disini lebih seperti mengangkat sebagian / salah satu objek sebagai perwakilan yang lainnya.
Khusus untuk Seri “Kick!” pertama dan kedua (Tisna, Asmudjo, Ucok, Harsono, Suwage & Hartanto); Ada satu titik visi kecil, dimana terbentuk harapan di diri saya bahwa dengan membabak-belurkan mereka, menunjukkan ego saya untuk bisa menghilangkan sosok mereka, dan suatu saat saya akan menjadi diri saya sendiri.
Bagaimanapun, setiap seri “Kick!” -babak belur dan pemilihan objek-objeknya- yang saya citrakan memiliki makna pribadi masing-masing per-serinya.

FB: Apakah percaya bahwa dengan membangun kedekatan personal kepada orang lain, kita bisa melakukan kritik atau humor dengan lebih enak? Alasannya?

TAP: Secara umum, menurut saya, iya. Tentu. Tidak semua orang mudah menerima pendapat orang lain, apalagi tidak secara langsung. Selain statement -gestur, mimik wajah, intonasi suara dapat menentukan maksud dari si penyampainya. Sejujurnya, walau cukup sensitif, sebenarnya saya orang yang kurang percaya diri. Dalam menilai orang atau sesuatu, seringkali saya rangkai sendiri namun begitu tetap tidak berani mengutarakan secara langsung –seringkali karena merasa takut kalau pendapat saya salah, ataupun sebagai kebutuhan diplomasi. Dengan begitu, tidak jarang saya sengaja berusaha untuk membuat orang lain mengenal saya dahulu agar kemudian bisa terjadi pertukaran pendapat dengan lebih santai, apapun bentuknya.

FB: Ada wajah Tisna Sanjaya yang babak belur. Apakah ingin benar-benar menendang beliau? Alasannya?

TAP: Menendang secara harfiah? Tentu saja tidak –maaf kalau saya salah tangkap maksud pertanyaannya. ‘Menendang’ dalam artian membangun persaingan seniman tua-muda? …haha. Itu tidak mungkin. Entah kalau secara tidak langsung justru yang terlihat memang seperti itu. Yang pasti, saya sendiri tidak setuju kalau dianggap ingin menyaingi seniman tua, bagaimanapun, saya termasuk orang yang mendukung paham hirarki. Konsep dasar dari ‘kick’ sendiri saya ambil dari pemaknaan salah satu judul karya beliau, “Menghajar Picasso”, dan karya Aminudin “Ucok” Siregar, “Menghajar Tisna Sanjaya”.
Walaupun tidak paham dengan benar makna ‘menghajar’ yang dimaksud, namun saya coba esensikan sendiri sebagai ‘menghargai Picasso’ bagi Tisna Sanjaya dan ‘menghargai Tisna Sanjaya’ bagi Aminudin Siregar dengan cara yang berbeda, masing-masing. Bisa juga dimaknai sebagai ‘keinginan untuk menyaingi atau melampaui’.
Saya sendiri lebih memilih pemaknaan yang pertama, yaitu ‘menghargai’. Sementara, judul dasar “Kick!” sendiri saya ambil dari acara televisi fenomenal “Kick! Andy”. Saya punya alasan sendiri mengenai pengambilan judul tersebut.

FB: Seperti apa Tisna Sanjaya bagi Bung?

TAP: Tisna Sanjaya adalah sosok guru besar. Salah satu tokoh seniman besar yang telah memberikan manifestasi bagi kesenirupaan Indonesia. Katakanlah pendapat saya naif, namun lebih dari itu, bagi saya Tisna Sanjaya adalah seorang budayawan besar.
Pada dasarnya, sejauh yang saya tahu di sekolah-sekolah senirupa, para pengajarnya memiliki kedekatan yang baik dengan para didikannya –walaupun hal demikian tidak selalu terjadi kepada semua individu. Begitu juga dengan pak Tisna. Beliau dekat dengan banyak mahasiswanya, setidaknya, beliau memang lebih memposisikan sebagai teman atau senior dengan tetap menunjukkan arogansinya yang tidak berlebihan sebagai orang tua ataupun dosen.
Terlebih lagi, beliau mengajar juga di Studio Seni
Grafis (dan lulusan dari studio tersebut). Caranya mengajar yang selalu menggebu-gebu –namun bersuara pelan dan cenderung lambat, seringkali yang saya tangkap justru sarat akan penilaian diplomatis. Mungkin maksudnya tidak ingin menjatuhkan mental lawan bicaranya, terutama para mahasiswanya.
Bagaimanapun, hal yang membuat saya kurang sreg dari sosok pak Tisna yaitu sifat pelupanya. Salah satu contoh –mungkin karena terlalu sibuk, beliau bahkan lupa sewaktu saya menggambar dirinya bukanlah hasil dari motret dirinya secara langsung, melainkan dengan cara meminta dokumentasi foto dari anaknya, yang mana adalah junior saya sendiri.
Hal sepele memang, namun cukup berarti bagi
saya. Selebihnya, prihal penilaian lain yang juga merupakan penilaian umum mengenai beliau, saya pikir itu bukan porsi saya untuk membicarakannya.

FB: Kenapa tidak membuat wajah politikus yg lebam?

TAP: Ada beberapa pertanyaan serupa tentang pemilihan objek yang saya citrakan. Pada intinya, pilihan objek yang saya citrakan lebih kepada sosok yang saya banggakan. Di samping itu, proses pemotretan langsung pada tiap objek yang saya lakukan adalah ketetapan mutlak. Jika tidak melalui proses tersebut, pasti akan saya anggap sebagai ‘karya proses’.
Atau minimal, dalam kasus karya “Kick Tisna”, saya meminta izin langsung (via email dan telepon) terlebih dahulu dengan disertai konfirmasi prihal ide dasar pengkaryaan saya, karena saat itu beliau sedang berada di Yogyakarta.
Sementara pada karya “Kick Ucok”, beliau menghindar sewaktu mau saya foto, karena sudah tahu wajahnya akan saya ‘babak-belurkan’. Jadi, terpaksa saya ambil dari stok dokumentasi yang saya punya.
Politik (atau hal-hal yang bersifat kenegaraan) bukanlah -atau belum menjadi- concern utama saya. Concern utama saya lebih kepada hal-hal populer –potret, figur; Dalam hal ini, sosok-sosok yang pernah saya citrakan memiliki populeritasnya sendiri, tidak melulu harus berarti populer di mata masyarakat secara luas. Saya tidak akan kaget jika ada penilaian orang yang menyandingkan karya saya dengan karya-karya yang mengangkat sosok populer ‘yang lebih umum’ seperti Marylin Monroe, Andy Warhol, hingga Bung Karno, Munir, Benyamin S, dan sebagainya. Sah-sah saja pendapat setiap orang.
Kalaupun suatu saat tiba-tiba saya mengangkat objek politikus, itu berarti proses yang saya lalui kurang-lebih sama dengan proses karya-karya saya sebelumnya, yang mana tentunya saya akan memerlukan ‘kekuatan’ lebih untuk melakukan proses tersebut.
Kalau saya boleh tarik poin-poin dari karya saya, yaitu seputar ‘populer’, ‘parodi’ dan ‘sejarah’. Masing-masing poin memiliki penjelasan.

FB: Punya pandangan khusus tentang seni rupa kontemporer Indonesia saat ini?

TAP: Secara khusus, tidak. …anggaplah saya ‘no comment’. Yang pasti, selama kuliah, saya belajar dan terbentuk dari akademik secara formal dan dari lingkungan kampus seni yang lebih ‘liar’, serta mengemban banyak pengalaman ‘lepas’ dari Galeri Soemardja –berproses membangun imej dengan pengkaryaan-pengkaryaan saya dan membuat pameran-pameran bersama teman-teman segenerasi saya sendiri. Lalu kemudian saya ‘lahir’ dari Galeri Soemardja di masa bergolaknya kembali booming pasar senirupa.
Saya alihkan sedikit arahan topiknya; penghargaan terbesar buat saya pada saat saya mempresentasikan karya saya ke publik dalam suatu pameran adalah respon-respon berupa penilaian yang jujur, baik positif maupun negatif dari publik dekat maupun lebih luas lagi.
Saya anggap ini memang naif, tapi seringkali saya -dan mungkin juga para seniman lain- mendapati respon-pertanyaan dari publik yang nyatanya lebih mengarah kepada konteks pasar. Seolah parameter kesuksesan dari sebuah pameran ditentukan oleh harga dan jumlah karya yang terjual. Tentunya ini menjadi keresahan tersendiri bagi seniman.
Bagaimanapun, saya juga tidak menyangkal bahwa saya menjalani karir kesenirupaan sebagai kehidupan utama saya. Hal yang paling penting dan utama tetaplah menyeimbangkan antara kualitas karya dengan logika pasar sehingga karya tersebut tidak keluar dari idealisme seni dan memang layak untuk dapat dimiliki oleh si peminat. Bukan karena ditentukan oleh situasi-kondisi ataupun fenomena tertentu. Disini, reputasi seniman sangat dipertaruhkan.

FB: Kesulitan apa saja yang ditemukan selama berkarir menjadi seorang perupa?

TAP: Standar. Kendala ide. Proses penggalian dan perluasan ide adalah hal yang tersulit jika dikaitkan dengan proses realisasi karya. …dan tentunya, uang. Hahaha...
Seperti saya katakan sebelumnya, manajemen pengkaryaan dan
hidup saya masih belum cukup baik. Misalnya, agak sulit untuk mendapat kualitas medium berkarya yang terbaik seperti untuk kertas, kanvas, spanram, frame, pelat tembaga untuk karya seni grafis –karena alasan finansial.
Bisa dibilang, kebutuhan hura-hura saya saat ini masih cukup tinggi. Bahkan kepuasan pemenuhan hobi seringkali lebih diutamakan ketimbang mengisi perut. Tapi bagaimanapun, alasan yang pertama tetap lebih urgent, yaitu kendala ide.

FB: Boleh tahu nggak, bagaimana cara bung memberikan penghargaan kepada orang tercinta?

TAP: …saya masih belum bisa mengkaitkan pertanyaan ini, masih sehubungan dengan proses pengkaryaan atau secara umum? Yang pasti, kalau boleh sedikit membual, saya termasuk orang yang sangat menghargai orang-orang di sekitar saya. Namun di saat yang sama, saya juga termasuk yang kurang pandai dalam menunjukkan perhatian terhadap orang-orang yang saya hargai, apalagi secara ekspresif.
Tapi ya itu, oleh karena itu tercitrakanlah karya “Kick!” –bisa dibilang itu sebagai salah satu wujud dedikasi (saya kurang sreg kalau pakai istilah ‘cinta’) saya terhadap orang-orang tertentu, dalam ruang lingkup seniman di sekitar saya sendiri.

+ + +

FB: Durasi proses dalam membuat satu gambar (karya)?

TAP: Standar. Tergantung mood (dan juga deadline –jika berhubungan dengan pameran atau pemenuhan nilai mata kuliah, sewaktu masih kuliah). Contoh kasus; menyelesaikan karya berukuran 200x100cm dalam 1,5 hari di satu waktu, dan menyelesaikan karya berukuran 120x80cm dalam 5 hari di waktu lain –dengan tema, teknik dan medium yang sama.

FB: Ukuran terbesar karya yang pernah dibuat? Judul?

TAP: Yang saya anggap cukup berhasil, 200x100cm. “Kick Harsono” (“BNE V.2”, 2008). Yang saya anggap sebagai ‘proses’, 350x200cm. “Bermain Tangkap-tangkapan” (“Bandung Initiative #2”, 2008).

FB: Durasi per-hari / malam dalam berkarya –atau minimal, berhadapan dengan kanvas?

TAP: Saya cukup tersindir; ‘berhadapan’ bukanlah berarti ‘berkarya’. Kenyataanya, seringkali saya sengaja terus memelototi dan bahkan tidur-tiduran di sofa tepat di depan karya saya demi menghimpun niat untuk melanjutkan karya saya, namun situasi berikutnya seringkali saya malah benar-benar ketiduran atau berkutat dengan hobi saya. Di waktu-waktu tertentu, saya bisa menghabiskan waktu 12 jam non-stop (sudah termasuk makan dan mandi) untuk berkarya. Intinya, jawaban ini sama dengan jawaban untuk pertanyaan sebelumnya, tergantung mood.

FB: Yang (sering) dilakukan jika sedang bosan?

TAP: Menata strategi pengkaryaan jangka menengah dan jangka panjang. Bersosialisasi. Berkutat dengan hobi -fauna. Belanja. Nonton film. Internet-an. Melamun. Tidur. Minus olahraga.

FB: Apa minuman / makanan saat sedang berkarya?

TAP: Snack, sarat kandungan MSG. Kopi-creamer. + rokok.

FB: Pernah latihan beladiri?

TAP: Pernah. Waktu SD, Sin Lam Ba –berhenti karena raport sekolah jeblok. Waktu SMP, Tae Kwon do –berhenti karena raport sekolah jeblok. badan hancur.

FB: Perlu nggak seorang perupa mempelajari bela diri?

TAP: Saya pikir perlu, bahkan bagi semua orang. Paling tidak, anggaplah sebagai olahraga –ini yang terpenting. Kenyataannya, saya tidak melakukannya.

FB: Punya masalah dengan kaki?

TAP: Kaki? Jika maksudnya stamina –yang pasti, saya tidak memiliki mental sebagai pecinta alam yang secara rutin memiliki jadwal untuk ‘berhutan’. Kecuali dalam melawan letih ketika berbelanja, terutama berhubungan dengan hobi fauna dan berburu-koleksi VCD original.

FB: Bisa kirimi softcopy CV?

TAP: Disertakan.

FB: Penting nggak sih datang ke pameran? Menemui apa saja kalau datang ke pameran orang lain?

TAP: Penting. Referensi. Informasi. Pencerahan. Sarana bersosialisasi, sekaligus jalan-jalan. Di sisi yang sama, sebagai bentuk penghargaan kepada seniman yang berpameran.

* * * * * *


No comments:

Post a Comment